Kampung Jammeng lokasinya masih satu daratan dengan ibu kota kabupaten. Jaraknya sekitar 25 kilometer.
Namun, sulitnya infrastruktur membuat desa ini masih tertinggal. Transportasi umum juga tidak menjangkau ke sana.
Masalah jaringan seluler pun begitu. Nihil. Jika ada yang mendesak, maka warga harus ke desa tetangga terlebih dahulu.
"Kita harus ke kampung sebelah kalau mau menelpon. Sekitar 10 km, atau mungkin karena kondisi jalannya yang tidak bagus jadi terasa jauh," tuturnya.
Baca Juga:Indonesia Perlu Benahi Pengadaan PLTS Skala Besar Agar Peroleh Harga Listrik Kompetitif
Di Jammeng juga ada puskesmas. Namun tenaga kesehatan yang ditugaskan tak ada yang bertahan.
"Sisa satu petugas yang kerja di sana. Bidan sudah tidak ada yang betah. Mungkin karena tidak ada listrik dan jaringan," tutur Risnawati.
Dampak ketiadaan listrik juga sempat mengguncang Andi Azman. Dia mengalami geger budaya saat merantau melanjutkan pendidikan.
Azman adalah warga Bontorusu, Kabupaten Kepulauan Selayar. Sewaktu sekolah, ia menggunakan lampu minyak saat belajar pada malam hari.
"Sekarang sudah ada listrik, tapi hanya menyala pada jam 6 sore. Jam 12 malam mati," ujar Azman.
Baca Juga:Pengguna Listrik dengan Watt Besar Terima Bansos, Mensos: Ada yang Begitu
Pria berumur 23 tahun yang kini berkuliah di Makassar ini mengaku awal kuliah, ia tak menguasai teknologi. Pengetahuannya minim karena sumber informasi seperti televisi tak bisa menyala di rumahnya.
"Apalagi komputer, tidak ada. Padahal jarak dari rumah saya ke pulau utama tidak jauh, hanya 300 meter," tuturnya.