Suhardiman
Jum'at, 10 April 2026 | 16:57 WIB
Arsiparis Ahli Madya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pemprov Sulsel memperlihatkan arsip sejak tahun 1826. (SuaraSulsel.id/Lorensia Clara)
Baca 10 detik
  • Nurdin dan Irwan merawat 40 ribu boks arsip sejarah di Dinas Perpustakaan Sulawesi Selatan sejak puluhan tahun lalu.
  • Arsiparis menghadapi risiko kesehatan, paparan bahan kimia, serta keterbatasan anggaran saat melakukan fumigasi dan restorasi dokumen tua.
  • Kurangnya kesadaran masyarakat dan ASN menjadi hambatan utama dalam pengelolaan arsip sebagai memori kolektif serta sejarah daerah.

"Risikonya tinggi. Ini ada kumannya, karena kertas kan. Itulah kenapa kita harus pakai alat pelindung diri," kata Nurdin.

Setiap enam bulan sekali, ruang depo harus disterilisasi melalui proses fumigasi, atau penyemprotan bahan kimia untuk membasmi jamur dan hama. Saat proses itu berlangsung, ruangan ditutup rapat. Tidak boleh dimasuki selama dua minggu.

"Begitu dimasukkan obat, ruangan ini ditutup. Tidak boleh ada yang masuk. Dua minggu baru bisa dibuka," jelasnya.

Tak hanya itu, setiap tiga bulan, sekitar 40 ribu boks arsip harus diisi kamper satu per satu untuk mencegah kerusakan. Sebuah pekerjaan yang repetitif.

Nurdin menyebut saat ini restorasi arsip atau upaya perbaikan dan penyelamatan arsip yang sudah rusak masih sangat minim sekali.

Tidak semua dokumen bisa diselamatkan dalam waktu bersamaan. Keterbatasan anggaran jadi salah satu alasannya.

"Sekarang kita harus prioritas. Arsip mana yang paling mendesak atau urgent itu kita dahulukan restorasi," katanya.

Di balik itu, ada pula kegelisahan yang perlahan tumbuh. Ia menyadari, tak banyak generasi muda yang tertarik pada dunia kearsipan. Padahal, di tangan arsiparis, sejarah diselamatkan.

"Padahal arsip itu referensi pengembangan ilmu pengetahuan. Dia sumber informasi, sumber penelitian," kata Nurdin.

Baca Juga: Emosi Tengah Malam, Perwira Polisi di Bulukumba Diduga Aniaya Warga

Baginya, arsip bukan sekadar tumpukan kertas lama. Melainkan memori kolektif, alat bukti hukum, sekaligus sumber informasi penting dalam pengambilan keputusan.

Namun tanpa perawatan, semua itu bisa hilang. Di usia pengabdiannya yang telah melewati tiga dekade, Nurdin tetap berdiri di antara boks-boks arsip itu.

Ia setia betul menjaga sesuatu yang mungkin tak lagi banyak dilihat, tapi tak pernah kehilangan makna.

Ilmu Rumit, Biaya Mahal, dan Risiko Tinggi

Di ruang lain, Irwan, arsiparis ahli madya juga menjalankan tugas yang tak kalah rumit. Ia sibuk merestorasi arsip yang telah rusak dimakan usia.

Irwan telah mengabdikan diri sejak 1992. Untuk mendalami teknik restorasi, ia bahkan pernah belajar hingga ke Jepang.

Load More