- Nurdin dan Irwan merawat 40 ribu boks arsip sejarah di Dinas Perpustakaan Sulawesi Selatan sejak puluhan tahun lalu.
- Arsiparis menghadapi risiko kesehatan, paparan bahan kimia, serta keterbatasan anggaran saat melakukan fumigasi dan restorasi dokumen tua.
- Kurangnya kesadaran masyarakat dan ASN menjadi hambatan utama dalam pengelolaan arsip sebagai memori kolektif serta sejarah daerah.
"Risikonya tinggi. Ini ada kumannya, karena kertas kan. Itulah kenapa kita harus pakai alat pelindung diri," kata Nurdin.
Setiap enam bulan sekali, ruang depo harus disterilisasi melalui proses fumigasi, atau penyemprotan bahan kimia untuk membasmi jamur dan hama. Saat proses itu berlangsung, ruangan ditutup rapat. Tidak boleh dimasuki selama dua minggu.
"Begitu dimasukkan obat, ruangan ini ditutup. Tidak boleh ada yang masuk. Dua minggu baru bisa dibuka," jelasnya.
Tak hanya itu, setiap tiga bulan, sekitar 40 ribu boks arsip harus diisi kamper satu per satu untuk mencegah kerusakan. Sebuah pekerjaan yang repetitif.
Nurdin menyebut saat ini restorasi arsip atau upaya perbaikan dan penyelamatan arsip yang sudah rusak masih sangat minim sekali.
Tidak semua dokumen bisa diselamatkan dalam waktu bersamaan. Keterbatasan anggaran jadi salah satu alasannya.
"Sekarang kita harus prioritas. Arsip mana yang paling mendesak atau urgent itu kita dahulukan restorasi," katanya.
Di balik itu, ada pula kegelisahan yang perlahan tumbuh. Ia menyadari, tak banyak generasi muda yang tertarik pada dunia kearsipan. Padahal, di tangan arsiparis, sejarah diselamatkan.
"Padahal arsip itu referensi pengembangan ilmu pengetahuan. Dia sumber informasi, sumber penelitian," kata Nurdin.
Baca Juga: Emosi Tengah Malam, Perwira Polisi di Bulukumba Diduga Aniaya Warga
Baginya, arsip bukan sekadar tumpukan kertas lama. Melainkan memori kolektif, alat bukti hukum, sekaligus sumber informasi penting dalam pengambilan keputusan.
Namun tanpa perawatan, semua itu bisa hilang. Di usia pengabdiannya yang telah melewati tiga dekade, Nurdin tetap berdiri di antara boks-boks arsip itu.
Ia setia betul menjaga sesuatu yang mungkin tak lagi banyak dilihat, tapi tak pernah kehilangan makna.
Ilmu Rumit, Biaya Mahal, dan Risiko Tinggi
Di ruang lain, Irwan, arsiparis ahli madya juga menjalankan tugas yang tak kalah rumit. Ia sibuk merestorasi arsip yang telah rusak dimakan usia.
Irwan telah mengabdikan diri sejak 1992. Untuk mendalami teknik restorasi, ia bahkan pernah belajar hingga ke Jepang.
Berita Terkait
-
Ditolak KUA, Ayah Tetap Nikahkan Anak di Bawah Umur dengan Pria 71 Tahun di Luwu
-
Selingkuh Berujung Petaka, Petani di Bone Tewas di Tangan Suami Dendam
-
Muhammadiyah Sulsel Serahkan Laporan Kasus Masjid Nurut Tajdid Barru ke Polda Sulsel
-
Tolong Tenang! Stok BBM di Sulawesi Selatan Aman, Meski Antrean Mengular
-
ASN dan Kepala Desa di Sulsel Latihan Militer Jadi Tentara Cadangan
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
5 Kasus Teridentifikasi Penipuan Jual Beli Titik SPPG
-
Rp100 Miliar Disiapkan Untuk Pembangunan Jembatan Kembar Barombong
-
Kapolda Endus Kepentingan Politik Dibalik Maraknya Geng Motor di Sulawesi Selatan
-
Kronologi Pembunuhan Sadis Penjual Ikan di Gowa: Dibuntuti Lalu Dihabisi dengan Parang
-
Progres Jalan Batas GowaTondong Sinjai Capai 12 Persen, Pemprov Sulsel Kebut Proyek MYP