- Seorang remaja 13 tahun asal Makassar menuangkan pengalaman traumatisnya menjadi narkoba ke dalam komik berjudul Safe Space.
- Peristiwa tragis terjadi di pesantren Pangkep saat korban dipaksa senior menggunakan vape yang mengandung narkotika jenis MDMA.
- Sekda Sulawesi Selatan mengapresiasi karya tersebut sebagai media pembelajaran penting bagi anak-anak untuk menghindari pergaulan tidak sehat.
SuaraSulsel.id - Tangannya masih lincah membolak-balik halaman komik setebal 120 halaman.
Sesekali ia tersenyum saat menunjukkan ilustrasi yang digambarnya sendiri.
Sulit membayangkan, karya berjudul Safe Space itu lahir dari pengalaman paling kelam dalam hidup seorang bocah berusia 13 tahun di kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Beberapa bulan lalu, hidupnya berubah drastis. Ia menjadi korban pemaksaan mengisap rokok elektronik atau vape oleh teman yang lebih senior di lingkungan pondok pesantren di Pangkep, Sulawesi Selatan.
Baca Juga:Pengedar Sabu Tiga Kilogram Dari Palopo Ditangkap di Kolaka
Belakangan, cairan vape itu diketahui mengandung narkotika jenis MDMA sintetis.
Peristiwa tersebut membuatnya dinyatakan positif narkoba dan harus meninggalkan pondok pesantren tempatnya menimba ilmu.
Kisah itu sempat menyita perhatian publik pada April 2026.
Namun, alih-alih larut dalam keterpurukan, bocah itu memilih bangkit. Pengalaman pahit yang nyaris menghancurkan masa depannya kini ia tuangkan dalam sebuah komik yang diberi judul Safe Space.
Lewat cerita bergambar, ia menuliskan perjalanan hidupnya secara jujur.
Baca Juga:Penyelundup Narkoba di Bandara Hasanuddin Ditangkap
![Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Jufri Rahman menerima komik Safe Space karya seorang remaja eks santri asal Kabupaten Pangkep yang pernah menjadi korban pemaksaan mengisap vape mengandung narkotika [SuaraSulsel.id/Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/09/12014-komik.jpg)
Bukan hanya tentang peristiwa yang membuatnya viral, tetapi juga tentang tekanan pergaulan, rasa takut, penyesalan, hingga proses menemukan keberanian untuk kembali menjalani hidup.
Di dalam komik itu, ia juga menceritakan bagaimana hubungan pertemanan yang tidak sehat (toxic friendship) perlahan menyeretnya ke situasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Dukungan keluarga kemudian menjadi titik balik yang membantunya bangkit dan kembali percaya pada dirinya sendiri.
Karya tersebut diperlihatkan langsung kepada Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Jufri Rahman.
Didampingi ayahnya dan Kepala UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sulsel, Yessy Yoanna Ariestiani, remaja itu tampak antusias menjelaskan isi komiknya.
Jufri mengaku bangga melihat keberanian anak tersebut mengubah pengalaman traumatis menjadi sebuah karya yang sarat pesan.