Jejak Program Astra di Lorong Rappocini: Antara Keberlanjutan dan Harapan Warga

Di tengah keterbatasan dan kepadatan penduduk, Astra menghadirkan lingkungan yang nyaman dan menjadi kebutuhan warga Makassar

Muhammad Yunus
Selasa, 22 Oktober 2024 | 15:54 WIB
Jejak Program Astra di Lorong Rappocini: Antara Keberlanjutan dan Harapan Warga
Kampung Berseri Astra, jalan Rappocini, Kota Makassar, Sulawesi Selatan [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara Tambing]

Tak jauh dari situ, kita akan mendapati persimpangan jalan. Papan penunjuk arah menuliskan ke sebelah kiri, ada Paud, Rumah Toga, Posyandu dan Sanggar Seni. Jika ke arah kanan, ada Poskeskel, Lorong 5 dan UKM. Semuanya bantuan dari Astra Honda.

Saya menelusuri tiap lorong-lorong kecil di wilayah itu. Hingga akhirnya menemukan sebuah rumah sederhana bertuliskan UKM Rotan "Binaan PT Astra International Tbk".

Nurhayati nama pemiliknya. Ia dan suaminya, Alex, sudah melakoni usaha tersebut sejak tahun 1987. Produksinya bermacam-macam. Yang paling diminati adalah kursi rotan dan parcel.

Ia bercerita, pernah merasakan berada di puncak kesuksesan. Namun, seiring berjalannya waktu, konsumen lebih memilih beralih ke sofa dan kursi kayu. Bisnisnya pun semakin jatuh.

Baca Juga:BRI Green Financing Menjadi Pilihan Tepat untuk Kamu yang Pilih Rumah Ramah Lingkungan

Kampung Berseri Astra, jalan Rappocini, Kota Makassar, Sulawesi Selatan [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara Tambing]
Kampung Berseri Astra, jalan Rappocini, Kota Makassar, Sulawesi Selatan [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara Tambing]

"Kami terpaksa pindah ke sini dari jalan Anoa. Sekitar tahun 2019 kami dibantu modal oleh Astra. Dibantu renovasi tempat juga," ujarnya.

Nurhayati sempat berjuang lagi setelah disuntik modal. Namun pada akhirnya mereka menyerah juga, produknya kalah bersaing di pasar.

Rumah rotan tersebut terpaksa berhenti berproduksi pada tahun 2021. Suaminya, Alex, juga harus merantau ke Kalimantan demi memenuhi kebutuhan hidup.

"Anak-anak tidak ada yang bisa melanjutkan jadi terpaksa berhenti. Sebenarnya sedih, tapi kita tidak bisa apa-apa," keluhnya.

Tak jauh dari lokasi itu, ada rumah yang disulap jadi taman Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Babul Jannah. Suasana rumah berwarna kuning itu tak seperti PAUD pada biasanya. Pagarnya terkunci dan sepi.

Baca Juga:Pj Gubernur Sulawesi Selatan Ajak Masyarakat Pulihkan dan Lestarikan Lingkungan

"Sudah tutup karena meninggal orangnya," kata Yuli, warga sekitar.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini