Tahun 2018, Sulaiman membuat kandang kecil. Untuk tetap menyalurkan hobinya memelihara ayam kampung.
"Kasian lihat anak ayam tidak ada tempat bernaung," ungkapnya.
Dari sekadar hobi memelihara ayam, tidak terasa jumlah ayam yang dipelihara berkembang sampai puluhan ekor.
Apes, tahun 2019 wabah flu burung kembali menyerang ketiga kalinya. Ayam kampung yang dipelihara tidak sakit. Langsung mati.
Baca Juga:Tulus dan Tuli Berdaya
"Tanpa gejala," ungkap Sulaeman.
Sulaiman mengaku tidak mau putus asa. Meski tiga kali terkena serangan flu burung.
Dari 10 anak ayam yang tersisa, Sulaiman mencari cara di media sosial. Memelihara anak ayam kampung. Agar tetap sehat dan tidak terserang penyakit.
Meski sudah melakukan berbagai upaya, usaha Sulaiman tetap jalan di tempat. Tidak bisa berkembang. Selain minim modal usaha, fasilitas yang dimiliki juga sangat terbatas.
![Ayam kampung dipelihara secara organik di Luwu Timur, Sulawesi Selatan [SuaraSulsel.id/Muhammad Yunus]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/12/28/26831-ayam-kampung.jpg)
Bertemu PT Vale
Baca Juga:Raffi Ahmad Minta Rafathar Tos dengan Penyandang Disabilitas: Dark Jokes-nya Sesat
Hobi Sulaiman ternyata dilirik oleh pemerintah desa. Sehingga Sulaiman ditawarkan untuk bekerja sama dengan PT Vale. Melalui program pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM.