Menjawab kebutuhan tersebut Bonifasius mengemukakan pentingnya ASN mengetahui empat pilar Literasi Digital yaitu Kemampuan Digital, Keamanan Digital, Budaya Digital, dan Etika Digital.
“Empat pilar digital yang dipaparkan dalam kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kecakapan dunia digital dan yang paling penting meningkatkan kewaspadaan terhadap penggunaan perangkat, sehingga dapat tercipta ASN Sulsel yang makin cakap digital,” tuturnya seraya menjelaskan bahwa kegiatan literasi digital ini merupakan kolaborasi antara BPSDM Kemendagri dengan Direktorat Pemberdayaan Informatika Kemenkominfo.
Berbicara soal budaya digital sebagai salah satu pilar literasi digital, Dr. Istiani, M.Psi, dosen Psikologi dari Bina Nusantara University menyampaikan, sangat penting untuk diperhatikan. Ia menegaskan tidak sekadar meningkatkan skill teknologi digital, namun hal yang non-technical juga tak kalah penting. Terlebih lagi bagi para ASN yang memiliki tuntutan untuk melayani masyarakat.
“Budaya digital penting untuk ASN agar tetap relevan dan tidak tertinggal transformasi digital, budaya digital tentang menjdai tenaga kerja bisa menjawab tantangan baru dan tidak tertinggal,” tutur Istiani.
Begitu pula dengan etika digital. Gatot Sandy, Digital Content Practitioner mengatakan, pentingnya etika digital untuk merasionalkan dan mengembangkan tata kelola di kehidupan sehari-hari.
Salah satu tema terkait etika digital yang diangkat dalam kegiatan literasi digital bagi ASN Sulsel adalah filtering di sosial media.
Terkait tema tersebut, Gatot Sandy mengatakan ada strategi yang dinamakan THINK, yaitu “True” yang berkenaan dengan kredibilitas informasi, “Hurtful” mengenai pentingnya mempertimbangkan kemungkinan informasi untuk menyakiti beberapa pihak.
Kemudian, lanjut dia, ada “inspiring” yang berkenaan dengan manfaat informasi tersebut, serta “necessary” atau apakah informasi tersebut diperlukan oleh masyarakat, dan yang terakhir adalah “kind”, yaitu apakah informasi tersebut berujung pada kebaikan atau tidak.
“Goals dari persebaran informasi adalah (agar masyarakat) sama-sama paham. Kita hidup berdampingan dengan orang lain, sehingga selalu membutuhkan orang lain. Jika semua orang dipaksakan meyakini keyakinan kita, tidak selaras dengan nature kita,” jelas Gatot.
Baca Juga:Lumrah Kasus Pencurian Data Marak di Indonesia, Ternyata Ini Biang Keroknya
Sementara Andri Johandri, Founder Pythonesia Org memaparkan tentang keamanan digital di dunia maya, salah satunya dalam keamanan perangkat. Ia mengemukakan terdapat poin-poin penting di dalamnya, antara lain operasi sistem perangkat, konfigurasi hak akses perangkat, perangkat lunak, kontrol hak akses perangkat lunak.