Pemberian nama Sidenreng untuk memperingati peristiwa mula pertama kedatangan mereka di tempat itu. Dengan cara saling bergandeng tangan atau Sidenreng atau Sirenreng dalam bahasa Bugis.
Mereka masuk ke danau untuk mandi dan mengambil air. Danau itu kini dikenal dengan nama Danau Sidenreng.
Dari peristiwa itu, maka wilayah tersebut diberi nama Sidenreng. Namun, orang Bone, Soppeng dan Wajo menyebut tempat itu dengan nama Tanae Aja Tappareng.
Artinya, daerah yang berada di sebelah barat danau Sidenreng. Dalam bahasa Bugis, danau disebut Tappareng, sementara barat disebut Aja atau Riaja.
Baca Juga:Sejarah Bulan Rajab, Beserta Makna dan Keutamaan Bulan Asyhurul Haram
Di daerah Ajatappareng ini kemudian terbentuk lima kerajaan-kerajaan lokal yaitu Sidenreng, Rappang, Sawitto, Suppa dan Alitta. Kerajaan-kerajaan inilah yang sesungguhnya disebut Lima Ajatappareng.
Sekarang, Lima Ajatappareng ini diperluas wilayahnya yang meliputi bekas Afdeling Parepare, yakni Kabupaten Barru, Kota Parepare, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Sidenreng Rappang.
Rappang
Selanjutnya, mengenai Rappang. Kota Rappang berasal dari kata Rappeng.
Dahulu sungai yang mengalir di Rappang sangat lebar dan bagian hulunya ditumbuhi hutan belukar yang lebat. Itulah yang disebut Rappang artinya Rappeng-rappeng berarti, dahan atau ranting yang hanyut yang kemudian membentuk pemukiman.
Baca Juga:Sejarah Hari Ini: Peristiwa Sampit 18 Februari 2001
Sidenreng dan Rappang kemudian menjadi dua kerajaan kembar. Menurut Lontara Sidenreng dan Rappang, raja-raja yang memerintah di dua kerajaan ini berasal dari Sangalla, Tana Toraja.