facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

UNICEF Laporkan Kemunculan Sejumlah Penyakit di Sulawesi Selatan

Muhammad Yunus Senin, 08 November 2021 | 12:07 WIB

UNICEF Laporkan Kemunculan Sejumlah Penyakit di Sulawesi Selatan
Petugas kesehatan puskesmas melakukan penyuntikan imunisasi Dipteri Tetanus (DTTD) secara "Drive Thru", di Puskesmas Pondok Betung, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (14/11/2020). [ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal]

Akibat imunisasi di sekolah harus dihentikan

SuaraSulsel.id - Kepala Kantor Perwakilan UNICEF Wilayah Sulawesi dan Maluku Henky Widjaja, mengungkapkan sejumlah penyakit muncul. Akibat imunisasi di sekolah harus dihentikan. Karena merebaknya virus corona pada awal Maret 2020.

"Sejak ditutupnya sekolah, kasus polio ditemukan di beberapa tempat, difteri, dampak rubella juga merebak. Padahal semua penyakit ini sudah pernah nol di Indonesia," kata Henky di Makassar, Minggu 7 November 2021.

Henky menjelaskan, imunisasi di sekolah sangat berpengaruh terhadap imunitas tubuh anak dengan berbagai jenis vaksin. Sejumlah penyakit yang bisa terjadi karena tidak adanya pemberian vaksin anak adalah tetanus, polio, TBC, difteri, campak, rubella, dan kanker rahim.

"Kalau Sulsel, kami memang belum punya datanya, tapi memang ada beberapa kasus di Sulsel maupun provinsi lainnya. Kalau polio ada merebak KLB di Papua dan Jawa Barat," ujarnya.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Sulawesi Selatan Sabtu 6 November 2021

Henky menjelaskan bahwa sebelum pandemi, pemerintah telah menggalakkan layanan imunisasi di sekolah yang diakui cakupannya cukup rendah. Tetapi saat pandemi semua layanan dihentikan. Hingga akhirnya semakin diperparah dengan adanya virus corona.

"Selama masa pandemi, orang-orang juga tidak ke sekolah. Nah, ini yang sekarang berusaha kembali digalakkan pemerintah dengan melakukan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) untuk Tahun 2021 di Sulsel," ujarnya.

Program BIAS 2021 ini baru saja dirilis oleh Pemerintah Provinsi Sulsel bersama Unicef untuk meningkatkan imunitas anak. Imunisasi anak ini menargetkan kelas 1 untuk vaksin difteri tetanus.

"Imunisasi ini fokus berkelanjutan untuk anak-anak, jadi tidak ada batas waktunya dan terus berlanjut," katanya.

Henky mengemukakan bahwa saat pandemi, banyak layanan kesehatan teralihkan, mobilitas juga terganggu, sehingga dengan momentum dibukanya kembali sekolah maka imunisasi anak kembali digelar.

Baca Juga: Rusdin Tompo: Masyarakat Sulawesi Selatan Punya Akar Budaya Literasi yang Kuat

"Pelayanan kesehatan kepada anak tidak maksimal dan dengan momentum dibuka sekolah kembali kita mau mengampanyekan pentingnya imunisasi rutin. Pemerintah Indonesia yang menyediakan vaksin imunisasi lengkap bagi anak-anak dan ini sangat disayangkan jika tidak terdistribusi," ujarnya. (Antara)

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait