alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Sebelum Dipancung, Ilmuwan Indonesia Disiksa 10 Bulan

Muhammad Yunus Sabtu, 21 November 2020 | 19:52 WIB

Sebelum Dipancung, Ilmuwan Indonesia Disiksa 10 Bulan
Ilustrasi ilmuwan. [Luvqs/Pixabay]

Korban mendapat banyak penyiksaan oleh tentara Jepang

SuaraSulsel.id - Sebelum Prof dr Achmad Mochtar dipancung pada tanggal 3 Juli 1945. Almarhum mendapat banyak penyiksaan oleh tentara Jepang. Diperkirakan almarhum disiksa lebih 10 bulan.

Prof Mochtar dituduh melakukan sabotase terhadap Jepang. Dituduh mencemari vaksin tifus-kolera-disentri dengan cara memasukkan bakteri dan racun tetanus.

Ratusan Romusha meninggal dunia akibat vaksin tersebut. Sebelum dipancung, Mochtar mengalami penyiksaan selama lebih sepuluh bulan.

Mochtar dipaksa mengakui perbuatannya.Begitupula dengan beberapa ilmuwan lainnya.

Sekolah Pascasarjana (SPS) dan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Hasanuddin menggelar diskusi buku “Eksperimen Keji Kedokteran Penjajahan Jepang: Tragedi Lembaga Eijkman dan Vaksin Maut Romusha 1944-1945”.

Kegiatan berlangsung secara virtual melalui aplikasi Zoom Meeting, pada Sabtu (21/11/2020), mulai pukul 16.00 Wita.

Buku yang dibedah menceritakan kisah Prof. dr. Achmad Mochtar. Ilmuwan yang tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang menjabat Direktur Lembaga Eijkman.

Prof. Sangkot Marzuki, penulis buku yang hadir sebagai narasumber, menjelaskan selain menyiksa Mochtar, tentara pendudukan Jepang juga menyiksa ilmuwan-ilmuwan Lembaga Eijkman lainnya.

Untuk memperoleh pengakuan, bahwa ilmuwan Indonesia telah mencemari vaksin. Menyebabkan ratusan Romusha meninggal di Klender, Jakarta Timur.

Namun Jepang tidak memperoleh satu pun pengakuan dari ilmuwan Indonesia yang dituduh melakukan sabotase.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait