alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Ilmuwan Indonesia Dituduh Meracuni Vaksin, Dihukum Pancung

Muhammad Yunus Sabtu, 21 November 2020 | 19:40 WIB

Ilmuwan Indonesia Dituduh Meracuni Vaksin, Dihukum Pancung
Peneliti meriset pembuatan vaksin Merah Putih di salah satu laboratorium PT Bio Farma (Persero), Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8/2020). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

Ilmuwan dituduh melakukan sabotase. Dengan cara mencemari vaksin tifus-kolera-disentri dengan bakteri dan racun tetanus.

SuaraSulsel.id - Ilmuwan Indonesia Profesor dr Achmad Mochtar gugur dipancung pada tanggal 3 Juli 1945 oleh tentara Jepang di Indonesia.

Mochtar dituduh melakukan sabotase terhadap Jepang. Dengan cara mencemari vaksin tifus-kolera-disentri dengan bakteri dan racun tetanus.

Ratusan Romusha meninggal dunia akibat vaksin tersebut. Sebelum dipancung, Mochtar mengalami penyiksaan selama lebih sepuluh bulan.

Mochtar dipaksa mengakui perbuatannya.

Sekolah Pascasarjana (SPS) dan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Hasanuddin menggelar diskusi buku “Eksperimen Keji Kedokteran Penjajahan Jepang: Tragedi Lembaga Eijkman dan Vaksin Maut Romusha 1944-1945”.

Kegiatan berlangsung secara virtual melalui aplikasi Zoom Meeting, pada Sabtu (21/11/2020), mulai pukul 16.00 Wita.

Buku yang dibedah mengisahkan Prof. dr. Achmad Mochtar. Ilmuwan yang tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang menjabat Direktur Lembaga Eijkman.

Prof. Sangkot Marzuki, penulis buku yang hadir sebagai narasumber, menjelaskan selain menyiksa Mochtar, tentara pendudukan Jepang juga menyiksa ilmuwan-ilmuwan Lembaga Eijkman lainnya.

Untuk memperoleh pengakuan, bahwa ilmuwan Indonesia telah mencemari vaksin. Menyebabkan ratusan Romusha meninggal di Klender, Jakarta Timur.

Namun Jepang tidak memperoleh satu pun pengakuan.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait