Ketika Orang Datang Melihat-lihat Bertanya Harga, Lalu Pergi..

Pedagang merasakan Ramadan tahun ini lebih sepi dari biasanya

Muhammad Yunus
Rabu, 25 Februari 2026 | 13:42 WIB
Ketika Orang Datang Melihat-lihat Bertanya Harga, Lalu Pergi..
Sela (46 tahun) menata songkok dagangannya di trotoar Masjid Al Markaz Al Islami, Makassar. Pedagang musiman ini mengaku penjualan Ramadan dua tahun terakhir makin sepi pembeli [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara]
Baca 10 detik
  • Sela, pedagang songkok musiman di depan Masjid Al Markaz Al Islami Makassar, merasakan penurunan omzet signifikan dua tahun terakhir.
  • Penjualan songkok yang biasanya ramai sebelum puasa kini sepi, mencerminkan perlambatan daya beli masyarakat di wilayah tersebut.
  • Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sulsel stabil, namun menghadapi tantangan pada investasi asing (FDI) dan tingginya ICOR.

SuaraSulsel.id - Hujan turun sejak subuh di pelataran Masjid Al Markaz Al Islami, Rabu pagi itu. Air masih menetes dari sela-sela tenda sederhana yang dipasang di trotoar.

Di antara bunyi rintik, Sela (46) terlihat sibuk duduk menyusun songkok satu per satu.

Jam baru menunjukkan pukul 07.00 Wita.

"Dibuka saja, siapa tahu ada yang beli," katanya, setengah tersenyum.

Baca Juga:Daftar Lengkap Promo Buka Puasa 45 Hotel dan Restoran di Makassar, All You Can Eat Mulai 49K

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ramadan adalah musimnya. Ia bukan pedagang tetap.

Hanya di bulan puasa, Sela menjajakan kopiah di sekitar masjid terbesar di Makassar itu. Dua hari sebelum puasa dimulai, ia sudah lebih dulu membuka lapak.

Di hadapannya, berderet songkok banyak model hingga songkok recca--kopiah khas Bugis yang dianyam dengan motif tradisional.

Harganya bervariasi. Mulai Rp60 ribu hingga Rp140 ribu.

"Yang paling mahal itu songkok recca. Dianyam, jadi memang lebih tinggi harganya," ujarnya.

Baca Juga:Berapa Jumlah Zakat Fitrah dan Fidyah di Kota Palu Tahun 2026? Ini Penjelasan Kemenag

Modal yang ia keluarkan tahun ini sekitar Rp9 juta. Barang-barang diambil dari Pasar Sentral Makassar.

Jika tak habis terjual, ia simpan rapi untuk Ramadan tahun berikutnya.

Dulu, Ramadan selalu menjadi bulan panen. Ia bisa membawa pulang omzet hingga Rp20 juta.

Pembeli sudah ramai bahkan sebelum puasa dimulai. Orang-orang membeli songkok untuk salat tarawih pertama.

Sekarang suasananya berbeda.

"Dua tahun ini pembeli tidak seperti dulu," katanya pelan.

"Biasanya baru ramai H-3 Lebaran."

Ia tak bisa memastikan penyebabnya.

Namun Sela merasakan sendiri perubahan itu. Orang datang, melihat-lihat, bertanya harga, lalu pergi tanpa membeli.

"Ndak tahu, orang memang tidak mau belanja, atau memang tidak ada uang," ucapnya.

Keluhan serupa, katanya, juga datang dari pedagang di Terong,-- Pasar terbesar di Makassar, yang ada di seberang tempatnya menjual.

Pedagang campuran ikut merasakan Ramadan yang lebih sepi dari biasanya.

"Pedagang di dalam (pasar) juga mengeluh ndak banyak pembeli," ucapnya.

Meski begitu, Sela tetap bertahan. Setiap pagi ia datang, meski hujan turun atau panas menyengat.

Baginya, Ramadan tetap jadi peluang meraup rupiah di tengah kondisi perekonomian saat ini.

"Namanya usaha. Rezeki tidak tahu datang dari mana," katanya.

Di sela menunggu pembeli, Sela merapikan kembali dagangannya. Ia memastikan setiap songkok berdiri tegak.

Sela tahu mungkin tak sebanyak dulu yang terjual. Tapi, selama masih ada satu dua yang mampir dan membeli, ia akan tetap membuka lapak.

Sepinya lapak songkok di pelataran Masjid Al Markaz Al Islami bukan sekadar cerita pedagang musiman.

Di balik keluhan Sela dan pedagang kecil lainnya tentang Ramadan yang tak seramai dulu, ada gambaran lebih luas tentang daya beli masyarakat yang melambat.

Secara angka ekonomi, Sulawesi Selatan disebut masih tumbuh stabil. Tantangan di sektor investasi dan penguatan permintaan domestik yang masih jadi pekerjaan rumah pemerintah.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Sulsel pada 2026 berada di kisaran 5 hingga 5,8 persen, dengan titik tengah sekitar 5,4 persen.

Angka ini relatif tak jauh berbeda dengan capaian 2025 sebesar 5,43 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda menyebut sektor investasi masih menjadi pekerjaan rumah utama.

Sepanjang 2025, investasi di Sulsel didominasi penanaman modal dalam negeri (DDI) sebesar Rp11,53 triliun. Sementara penanaman modal asing (FDI) tercatat lebih rendah, sebesar Rp8,02 triliun.

"FDI di Sulsel bisa menjadi tantangan, apalagi di tengah investasi portofolio jangka pendek yang fluktuatif seiring dinamika global," ujar Rizki kepada media di Makassar.

Menurutnya, rendahnya FDI berpotensi memperlambat penciptaan lapangan kerja produktif serta membuat ekonomi daerah lebih rentan terhadap gejolak eksternal.

Selain itu, efisiensi investasi juga masih menjadi sorotan. Nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Sulsel pada 2025 berada di angka 6,62.

Angka ini menunjukkan bahwa untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi, dibutuhkan biaya investasi yang relatif besar.

"Problemnya di investasi. ICOR kita masih tinggi. Perlu kita evaluasi apakah ada kendala regulasi atau proses perizinan yang bisa dipercepat," katanya.

Di sisi lain, pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD) berpotensi menahan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Karena itu, pertumbuhan ekonomi tahun ini dinilai perlu ditopang penguatan permintaan domestik.

Rizki juga menilai Sulsel masih memiliki potensi besar yang belum tergarap optimal. Terutama di sektor perikanan dan industri pengolahan hasil laut.

Menurutnya, penguatan fasilitas cold storage dan rantai pendingin dapat menjaga kualitas ikan sehingga memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Industri turunan seperti pengolahan nugget ikan, ikan asap, hingga bakso ikan juga dinilai berpotensi dikembangkan.

Selain perikanan, sektor pendidikan juga dinilai memiliki peluang investasi, mengingat sejumlah universitas luar negeri mulai membuka cabang di beberapa daerah di Indonesia.

"Kalau potensi-potensi ini bisa kita optimalkan, pertumbuhan ekonomi Sulsel hingga 6 persen ke depan bukan hal yang mustahil," ujarnya.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Statistika dan Peluang
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 9 SMP dengan Kunci Jawaban dan Penjelasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Fiksi dan Eksposisi dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini