Muhammad Yunus
Kamis, 21 Mei 2026 | 12:15 WIB
Ilustrasi - PN Bangunjiwo [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen pada Mei 2026 guna menstabilkan nilai tukar rupiah.
  • Kenaikan suku bunga tersebut memicu kekhawatiran generasi muda terkait potensi kenaikan cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
  • Pelaku industri properti kini lebih berhati-hati dalam menjalankan proyek akibat beban biaya dan melemahnya daya beli masyarakat.

SuaraSulsel.id - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen memunculkan kekhawatiran di kalangan generasi muda.

Terutama mereka yang sedang berupaya membeli rumah pertama melalui skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Rani (27), seorang pekerja swasta di Makassar mengaku kenaikan BI Rate membuat dirinya semakin pesimistis untuk bisa memiliki rumah dalam waktu dekat.

Di tengah kondisi ekonomi yang lesu dan banyak perusahaan melakukan efisiensi, ia khawatir cicilan rumah justru semakin berat.

"Yang paling saya takutkan itu cicilan KPR ikut naik, sementara kondisi kerja sekarang serba tidak pasti. Banyak kantor lagi efisiensi, bonus dipotong, gaji pun stagnan," kata Rani, Kamis, 21 Mei 2026.

Rani mengungkapkan harga rumah saat ini sebenarnya sudah cukup sulit dijangkau oleh pekerja muda dengan penghasilan rata-rata.

Di Makassar misalnya, hunian komersial menyentuh angka Rp420 jutaan. Itu pun letaknya berada di daerah penyangga, atau jauh dari pusat kota.

Dan ketika suku bunga naik, beban itu terasa semakin berat karena cicilan bulanan berpotensi ikut meningkat.

Ia mengaku sempat menargetkan membeli rumah sebelum usia 30 tahun. Rencana tersebut kini mulai dipikir ulang lantaran biaya hidup terus meningkat, sementara kemampuan menabung semakin terbatas.

Baca Juga: Polisi Olah TKP Kasus Kekerasan Seksual di Rumah Bupati Konawe Selatan

"Sekarang kebutuhan sehari-hari saja makin mahal. Bahan makanan, biaya hidup, semua naik. Jadi buat nabung uang muka rumah itu makin susah," ujarnya.

Rani mengatakan banyak anak muda saat ini berada dalam posisi serba dilematis. Di satu sisi mereka didorong untuk mandiri dan punya aset, tetapi di sisi lain kondisi ekonomi membuat tujuan itu terasa semakin jauh.

Baginya, kondisi generasi muda saat ini bukan hanya takut terhadap naiknya bunga pinjaman, tetapi juga terhadap ketidakpastian masa depan pekerjaan.

"Buat kami yang bikin stres bukan cuma bunga naik. Tapi rasa takut kalau tiba-tiba kena PHK atau penghasilan berkurang. Karena kalau sudah ambil KPR, itu kan komitmen jangka panjang," sebutnya.

Ia menilai kondisi tersebut membuat banyak anak muda akhirnya memilih menunda membeli rumah dan lebih fokus menjaga kondisi keuangan agar tetap aman.

"Sekarang saya akhirnya pilih ngontrak dulu daripada maksa ambil rumah. Karena takut di tengah jalan malah tidak sanggup bayar cicilan," tambahnya.

Load More