Muhammad Yunus
Selasa, 03 Maret 2026 | 14:09 WIB
Ilustrasi: Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026/freepik
Baca 10 detik
  • Fenomena gerhana bulan total akan terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan pada Selasa, 3 Maret 2026.
  • BMKG menyatakan gerhana ini dapat disaksikan kasat mata, di mana Bulan akan tampak berwarna kemerahan saat puncak.
  • Peristiwa astronomi ini memberikan kesempatan observasi langsung sekaligus menjadi momentum refleksi spiritual dan edukasi bagi masyarakat.

SuaraSulsel.id - Langit Kota Makassar, Sulawesi Selatan akan dihiasi fenomena langka gerhana bulan total pada Selasa, 3 Maret 2026.

Masyarakat berkesempatan menyaksikan langsung peristiwa astronomi ini tanpa bantuan alat khusus selama kondisi cuaca mendukung.

Koordinator Bidang Observasi BMKG Wilayah IV Makassar, Jamroni memastikan gerhana bulan total kali ini dapat dilihat secara kasat mata dari wilayah Makassar dan sekitarnya.

"Iya, itu bisa dilihat secara kasat mata untuk kejadian nanti malam. Kejadiannya sebenarnya mulai dari sore, tapi kami tetap mengadakan pengamatan," ujar Jamroni.

Gerhana bulan total terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus.

Dalam posisi tersebut, Bumi berada di tengah dan menghalangi cahaya Matahari yang seharusnya mengenai Bulan. Akibatnya, Bulan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi.

Jamroni menjelaskan fenomena ini sebenarnya merupakan peristiwa alam yang secara astronomi tergolong rutin terjadi, meskipun tidak selalu dapat disaksikan di setiap wilayah.

"Gerhana adalah kejadian yang umum secara astronomi, ketika posisi Bulan, Bumi, dan Matahari sejajar. Cahaya Matahari terhalang oleh Bumi sehingga tidak sampai langsung ke Bulan. Saat itulah terjadi gerhana bulan," jelasnya.

Pada fase puncak gerhana total, Bulan tidak sepenuhnya menghilang dari pandangan. Sebaliknya, Bulan justru akan tampak berwarna kemerahan.

Baca Juga: Remaja Makassar Tewas Diduga Ditembak Polisi, Ini Kronologi Versi Polisi dan Keluarga

Fenomena ini kerap disebut sebagai Blood Moon atau bulan darah.

Warna merah tersebut muncul akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi.

Meski cahaya matahari terhalang langsung oleh Bumi, sebagian cahaya tetap dibiaskan dan tersebar, lalu mencapai permukaan Bulan dengan panjang gelombang merah yang dominan.

Berdasarkan data BMKG, gerhana bulan di Makassar berlangsung cukup panjang. Dimulai sejak sore hingga menjelang larut malam.

Berikut rincian fase gerhana bulan total pada Selasa (3/3/2026) dalam Waktu Indonesia Tengah (WITA):

• Gerhana penumbra mulai: 16.42.44
• Gerhana sebagian mulai: 17.49.46
• Gerhana total mulai: 19.03.56
• Puncak gerhana: 19.33.39
• Gerhana total berakhir: 20.03.23
• Gerhana sebagian berakhir: 21.17.33
• Gerhana penumbra berakhir: 22.24.35

Fase yang paling dinantikan adalah saat gerhana total berlangsung, khususnya di sekitar pukul 19.33 Wita ketika mencapai puncaknya.

Pada waktu tersebut, Bulan akan tampak sepenuhnya berwarna merah gelap di langit timur.

BMKG mengimbau masyarakat memilih lokasi yang minim polusi cahaya agar dapat menikmati fenomena ini secara optimal. Berbeda dengan gerhana matahari, gerhana bulan aman disaksikan tanpa alat pelindung mata.

Selain menjadi peristiwa ilmiah, gerhana bulan juga memiliki makna spiritual bagi sebagian masyarakat.

Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar turut menggelar Salat Gerhana Bulan (Khusuf) pada malam tersebut.

Kegiatan akan diawali dengan salat Isya dan Tarawih, kemudian dilanjutkan dengan Salat Gerhana Bulan secara berjamaah.

Pengelola Observatorium Unismuh Makassar, Hisbullah Salam mengajak masyarakat menjadikan fenomena ini sebagai momentum refleksi diri.

Menurutnya, gerhana bulan bukan sekadar peristiwa astronomi, melainkan juga pengingat akan keteraturan alam semesta.

"Fenomena alam seperti ini dapat menjadi sarana untuk memperdalam rasa syukur dan kekaguman terhadap kebesaran Sang Pencipta," ujarnya, Selasa, 3 Maret 2026.

Ia menambahkan, tradisi salat gerhana dalam Islam merupakan bentuk respons spiritual terhadap fenomena kosmik yang terjadi secara alami.

Momentum tersebut diharapkan dapat memperkuat kesadaran manusia akan posisi dirinya sebagai bagian kecil dari sistem alam semesta yang begitu luas.

Di sisi lain, gerhana bulan total juga menjadi kesempatan edukatif bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih mengenal ilmu astronomi.

Fenomena ini dapat menjadi sarana pembelajaran langsung tentang pergerakan benda-benda langit tanpa harus menggunakan teleskop canggih.

Dengan durasi lebih dari lima jam sejak fase awal hingga akhir penumbra, warga Makassar memiliki waktu cukup panjang untuk menyaksikan peristiwa ini. Satu-satunya faktor penentu hanyalah kondisi cuaca.

Jika langit cerah, maka malam ini Makassar akan menyuguhkan pemandangan langit yang berbeda dari biasanya, sebuah Bulan yang perlahan berubah warna, dari terang ke gelap, lalu memerah sebelum kembali seperti semula.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Load More