- Helen Brown dari AIC memaparkan hasil kajian di Universitas Hasanuddin mengenai rendahnya perspektif ilmiah dalam pemberitaan iklim.
- Pemberitaan perubahan iklim di Indonesia saat ini masih didominasi sumber pemerintah dan sektor ekonomi daripada data berbasis riset ilmiah.
- Program pelatihan bagi jurnalis terbukti efektif meningkatkan kualitas liputan, kepercayaan diri wartawan, serta kesadaran publik terhadap krisis perubahan iklim.
SuaraSulsel.id - Pemahaman wartawan di Indonesia dalam meliput isu perubahan iklim dinilai belum sebanding. Dengan pelatihan terkait konsep iklim dan energi yang mereka terima selama ini.
Kondisi tersebut membuat pemberitaan perubahan iklim masih minim perspektif ilmiah dan lebih banyak berfokus pada dampak ekonomi maupun respons bencana.
Hal itu diungkapkan Head of Communications and Outreach The Australia-Indonesia Centre (AIC), Helen Brown, usai pemaparan hasil kajian Climate Reporting in Indonesian Newsrooms di Kampus Universitas Hasanuddin, Rabu (20/5/2026).
Helen mengatakan, hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan cukup besar dalam pemberitaan isu iklim, khususnya di media daerah.
Banyak laporan cuaca ekstrem belum mengaitkan peristiwa tersebut dengan perubahan iklim yang dipengaruhi aktivitas manusia.
“Informasi dari ilmuwan yang dikutip dalam berita juga hanya sekitar lima persen dari keseluruhan isi pemberitaan,” ujarnya.
Menurut dia, pemberitaan iklim di Indonesia selama ini masih sangat bergantung pada sumber pemerintah sebesar 45 persen dan dunia usaha sekitar 40 persen.
Sementara pendekatan berbasis riset ilmiah dan perspektif akademisi masih sangat terbatas.
Akibatnya, berita lebih banyak menyoroti penanganan bencana jangka pendek dibanding menginvestigasi penyebab perubahan iklim dalam jangka panjang.
Baca Juga: 12 Daerah di Sulsel Dapat Pendampingan Pengendalian Perubahan Iklim
Meski demikian, Helen menyebut para jurnalis memiliki minat besar untuk memperdalam pemahaman mengenai isu iklim dan energi.
Salah satu kebutuhan utama adalah akses yang lebih mudah terhadap data ilmiah dan narasumber yang kredibel.
Kajian tersebut juga menemukan bahwa wartawan yang pernah mengikuti pelatihan terkait perubahan iklim cenderung lebih percaya diri dan lebih aktif dalam menghasilkan liputan isu lingkungan.
Program yang dijalankan AIC mencakup berbagai kegiatan, mulai dari diskusi kelompok terpumpun di Makassar hingga kunjungan lapangan ke Kampung Laikang, Kabupaten Takalar. Untuk melihat langsung dampak perubahan iklim terhadap nelayan dan petani rumput laut.
Sejumlah wartawan terpilih juga mengikuti pelatihan intensif bersama pakar iklim dari Monash University, termasuk Profesor Andrew Watkins.
Mereka mendapatkan pelatihan jurnalisme berbasis solusi yang difasilitasi Monash Constructive Institute Asia Pacific Hub.
Berita Terkait
Terpopuler
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
Mengapa Berita Perubahan Iklim di Indonesia Masih Dangkal? Ini Temuan Mengejutkan AIC
-
Polisi Olah TKP Kasus Kekerasan Seksual di Rumah Bupati Konawe Selatan
-
Korban Kekerasan Seksual di Rumah Bupati Konsel Diminta Menikahi Pelaku Saat Lapor Polisi
-
Dua Warga Jadi Tersangka Pembalakan Liar di TWA Mangolo
-
Andi Angga Kirim Kode Zona Kuning ke Ibu Sebelum Ditangkap Tentara Israel