Muhammad Yunus
Kamis, 29 Januari 2026 | 12:54 WIB
Kondisi terkini Karebosi Link dan Makassar Trade Center (MTC), dua pusat perbelanjaan yang terhubung dan pernah menjadi pusat perdagangan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis 29 Januari 2026 [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara]
Baca 10 detik
  • Mal Karebosi Link dan MTC di Makassar sepi aktivitas perdagangan, dengan sedikit pedagang buka lapak
  • Pedagang bertahan meski omzet minim, sementara masyarakat kelas atas cenderung menabung daripada melakukan konsumsi di pusat perbelanjaan.
  • Angka pengangguran Sulawesi Selatan naik pada Februari 2025, meskipun secara statistik angka kemiskinan tercatat menurun.

SuaraSulsel.id - Pukul 10.00 Wita, parkiran Karebosi Link nyaris kosong. Area yang dulu sesak oleh motor dan mobil kini hanya diisi dua truk pengangkut material bangunan.

Keduanya berhenti sebentar menurunkan barang untuk toko yang rencananya akan dibangun. Selebihnya sunyi.

Di dalam mal, suasananya tak jauh berbeda. Lorong-lorong panjang tampak lengang.

Dari ratusan lapak yang berjajar, hanya satu-dua pedagang terlihat membuka kios. Sebagian besar pintu toko tertutup rapat, dan berdebu.

Beginilah potret terkini Karebosi Link dan Makassar Trade Center (MTC), dua pusat perbelanjaan yang terhubung dan pernah menjadi denyut perdagangan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Dahulu, kawasan di sekitar Jalan Ahmad Yani ini dikenal sebagai pusat elektronik, pakaian, dan sepatu dengan harga terjangkau. Kini, denyut itu melemah.

Sastri datang ke tokonya sekitar pukul 09.30 Wita. Ia tahu pembeli tidak akan ramai.

Namun, setiap hari ia tetap membuka lapak, sebuah kios kecil yang menjual pakaian dalam dan kaus.

Bukan karena optimisme besar, melainkan karena tak ada pilihan lain.

Baca Juga: Memasuki Babak Baru, Ini 5 Fakta Kasus Rektor UNM Non Aktif Prof Karta Jayadi

Kondisi terkini parkiran Karebosi Link dan Makassar Trade Center (MTC), dua pusat perbelanjaan yang terhubung dan pernah menjadi pusat perdagangan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis 29 Januari 2026 [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara]

"Kadang dalam sehari tidak ada pembeli sama sekali," kata Sastri pelan, Kamis, 29 Januari 2026.

Perempuan itu sudah berjualan di Karebosi Link sejak bertahun-tahun lalu. Ia menyebut, lima hingga enam tahun terakhir kondisi mal tak lagi sama.

Dulu, buka lapak dari pagi hingga malam hampir selalu ada transaksi. Kini, dari pukul 09.00 sampai 21.00 Wita, omzet Rp200 ribu saja sudah dianggap lumayan.

"Kadang dapat Rp200 ribuan, kadang tidak ada sama sekali. Ya mau bagaimana lagi," ujarnya.

Keramaian biasanya hanya terasa sesaat, itu pun menjelang Lebaran. Di luar momen tersebut, hari-hari para pedagang yang masih bertahan dihabiskan dengan duduk menunggu, menatap lorong yang sepi, sambil berharap ada satu-dua orang berhenti di depan tokonya.

Sastri bukan pemilik toko. Ia hanya penjaga lapak.

Bertahan berarti tetap punya penghasilan, meski kecil. Menyerah berarti kehilangan sumber nafkah.

Di tengah biaya hidup yang terus naik, pilihan itu terasa semakin berat.

"Kalau tidak menjual, mau bagaimana lagi. Kondisinya sudah begini. Beruntungnya masih ada kerjaan, banyak yang mau kerja tapi tidak ada kerjaan," katanya.

Harapan kecil sempat tumbuh ketika pihak manajemen mengumumkan renovasi besar-besaran di MTC. Kabarnya, akan hadir sebuah supermarket untuk menarik kembali pengunjung.

"Kami berharap ramai lagi. Katanya mau buka toko Satu Sama," ujar Sastri menyimpan harapan pada perubahan yang belum tentu.

Kondisi terkini Karebosi Link dan Makassar Trade Center (MTC), dua pusat perbelanjaan yang terhubung dan pernah menjadi pusat perdagangan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis 29 Januari 2026 [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara]

Berharap Dengan Cara Lain

Tak jauh dari lapak Sastri, Rusdi, pemilik toko ponsel mengandalkan strategi berbeda. Toko fisiknya sepi, tapi ia bertahan lewat media sosial dan jaringan pertemanan.

"Teman-teman sudah tahu kita jualan di sini. Jadi kalau cari HP, tidak susah lagi," katanya.

Bagi Rusdi, bertahan di Karebosi Link bukan sekadar soal lokasi, melainkan soal citra lama yang masih melekat di benak sebagian warga Makassar.

"Kalau mau sewa ruko di luar, susah. Cari lokasi strategis mahal. Di sini kan dari dulu orang tahu pusat HP harga murah," ujarnya.

Mindset itulah yang Rusdi jaga. Walau realitas di lapangan sebenarnya tak seindah ingatan masa lalu.

Orang Kaya Lebih Pilih Menabung

Sepinya Karebosi Link dan MTC bukan peristiwa tunggal. Kondisi ini berkelindan dengan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih dan distribusi perbaikan ekonomi yang tak merata.

Data Bank Indonesia menunjukkan, meski ekspektasi terhadap perekonomian menguat, sebagian masyarakat justru menahan belanja.

Kelompok menengah atas cenderung memilih menabung ketimbang berbelanja.

Dalam Survei Konsumen Bank Indonesia yang dirilis 12 Januari 2026, proporsi pendapatan untuk konsumsi tercatat 74,3 persen, sedikit menurun dibanding bulan sebelumnya.

Sementara itu, proporsi pendapatan yang disimpan meningkat menjadi 14,9 persen.

Kelompok dengan pengeluaran Rp4,1-5 juta per bulan juga mencatat penurunan konsumsi menjadi 70,9 persen.

Pada saat yang sama, porsi tabungan meningkat di hampir semua kelompok pengeluaran.

Artinya, uang ada, namun tak sepenuhnya berputar di sektor konsumsi.

Roda ekonomi pun berisiko tersendat, terutama di sektor ritel dan perdagangan seperti yang dirasakan pedagang mal.

Kondisi terkini Karebosi Link dan Makassar Trade Center (MTC), dua pusat perbelanjaan yang terhubung dan pernah menjadi pusat perdagangan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis 29 Januari 2026 [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara]

Bayang-bayang Pengangguran

Tekanan semakin terasa ketika angka pengangguran meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mencatat jumlah pengangguran pada Februari 2025 mencapai 238.800 orang atau 4,96 persen.

Angka ini naik 8.123 orang dibandingkan Februari 2024.

BPS menyebut, meski sebagian besar lapangan usaha tumbuh positif, struktur ekonomi Sulsel masih didominasi sektor pertanian dan konstruksi.

Sektor perdagangan dan jasa yang menjadi tumpuan pedagang mal tak sepenuhnya mampu menyerap tenaga kerja baru.

Angka Kemiskinan Turun, tapi...

Di atas kertas, angka kemiskinan Sulawesi Selatan memang menurun.

Pada Maret 2025, jumlah penduduk miskin tercatat 698.130 orang atau 7,60 persen, turun dibanding tahun sebelumnya.

Kepala BPS Sulsel, Aryanto menyebut pertumbuhan ekonomi 5,78 persen (yoy) dan lonjakan sektor pertanian hingga 16,56 persen sebagai faktor pendorong.

Rata-rata pengeluaran per kapita pun meningkat. Namun, penurunan angka kemiskinan tidak serta-merta berarti semua lapisan merasakan pemulihan yang sama.

Aryanto menyebut, walau pengangguran meningkat, tidak semua dari mereka masuk kategori miskin. Bahkan hidup mereka ada yang tetap hidup sejahtera.

"Jadi memang tidak secara langsung ya ada hubungan antara kemiskinan dan pengangguran. Kalau kemiskinan itu kan dilihat seberapa banyak masyarakat kita di bawah garis kemiskinan, sedangkan pengangguran itu kita hitung dari berapa banyak orang yang di usia kerja, sementara tidak bekerja," jelas Aryanto.

Ia mencontohkan, ada kelompok masyarakat yang tidak bekerja tetapi masih memiliki sumber pendapatan lain. Seperti tabungan, aset atau dukungan keluarga, sehingga tidak masuk kategori miskin.

Di sisi lain, ada pekerja yang sebenarnya masih bekerja, tetapi tetap miskin karena penghasilan rendah.

Sekretaris Provinsi Sulawesi Selatan Jufri Rahman mengakui,
salah satu penyebab naiknya pengangguran karena adanya perlambatan ekonomi.

Pemprov Sulsel sudah melakukan sejumlah upaya, termasuk mengangkat Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja atau PPPK untuk menekan PHK massal.

Kemudian membuka job fair dan peluang kerja sama magang ke Jepang.

"Namun, memang tidak akan terlalu menekan. Ke depan kita akan permudah investasi masuk agar tercipta lapangan kerja yang lebih luas," sebutnya.

la tak menampik kemiskinan dan pengangguran berkaitan erat. Ketika banyak orang menganggur, maka risiko mereka miskin pun semakin tinggi.

"Maka kita harus akui kondisi real bangsa kita ini karena perlambatan ekonomi. Kondisi fiskal kita sedang tidak baik-baik saja, perputaran uang di masyarakat cukup kecil. Terus terang kurang uang," terang Jufri.

Angka pengangguran disumbang oleh masifnya pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan. Salah satu efek domino dari adanya efisiensi yang dilakukan pemerintah sejak tahun 2025.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Load More