- Presiden Prabowo bersama Partai Golkar memicu wacana pengembalian pemilihan kepala daerah dari sistem langsung ke pemilihan melalui DPRD.
- Beberapa partai di Sulawesi Selatan seperti PKB dan PPP mendukung wacana tersebut untuk mengurangi tingginya biaya politik Pilkada langsung.
- PDI Perjuangan Makassar menolak keras wacana itu, menilai sistem DPRD adalah kemunduran demokrasi yang membatasi hak partisipasi rakyat.
Ia menyebut realitas politik hari ini menunjukkan bahwa pilihan masyarakat sering kali ditentukan oleh kekuatan finansial kandidat, bukan pada rekam jejak, kapasitas, atau visi-misi pembangunan.
"Kita harus jujur mengakui orientasi pemilih hari ini sering bukan pada kualitas, tapi pada kemampuan finansial calon," ucapnya.
Meski demikian, Imam menegaskan pihaknya masih menunggu keputusan resmi dari pemerintah pusat dan DPR RI sebagai pembentuk kebijakan. Khususnya jika wacana tersebut akan dituangkan dalam revisi undang-undang pemilu.
Sementara itu, Ketua DPRD Sulsel yang juga politisi Partai NasDem, Andi Rahmatika Dewi memilih irit bicara saat dimintai tanggapan terkait wacana tersebut.
"Jangan dulu (wawancara) kalau soal itu," jawabnya singkat.
PDIP Tegas Menolak
Berbeda sikap dengan PKB dan PPP, PDI Perjuangan justru mengambil posisi tegas menolak rencana Pilkada melalui DPRD.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Makassar, Andi Suhada Sappaile bahkan menginstruksikan seluruh kader dan struktur partai di Kota Makassar untuk menolak wacana tersebut.
Instruksi itu berlaku menyeluruh, mulai dari pengurus DPC, PAC, ranting, hingga simpatisan di tingkat akar rumput.
Baca Juga: Profil Ketua DPRD Soppeng Andi Muhammad Farid Dilaporkan Aniaya ASN
Sikap tersebut ditegaskan sebagai komitmen PDIP dalam menjaga demokrasi langsung dan kedaulatan rakyat.
"Pilkada melalui DPRD adalah kemunduran demokrasi. Itu berisiko membawa kesadaran politik rakyat kembali ke era Orde Baru, ketika hak partisipasi publik dibatasi dan dikendalikan oleh elite," tegas Andi Suhada, Kamis, 8 Januari 2026.
Sekretaris DPC PDI Perjuangan Makassar, William menambahkan Pilkada langsung merupakan hasil perjuangan reformasi yang memberikan ruang seluas-luasnya bagi rakyat.
Untuk menentukan pemimpin daerahnya secara langsung, transparan, dan partisipatif.
William yang juga merupakan Anggota Komisi B DPRD Kota Makassar menilai mekanisme Pilkada langsung selama ini telah memperkuat demokrasi lokal serta memastikan kepala daerah memiliki legitimasi kuat karena dipilih langsung oleh rakyat.
Menurutnya, sistem tersebut adalah amanat reformasi yang tidak boleh ditarik kembali.
Berita Terkait
Terpopuler
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Presiden RI Minta Maaf ke Malaysia - Singapura Akibat Asap, Tapi Itu SBY...
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
- 5 Sabun Cuci Muka Retinol untuk Atasi Penuaan: Bikin Wajah Halus, Cerah, dan Kencang
- Pelembap Viva Hijau vs Kuning, Apa Bedanya? Ini Manfaat Keduanya untuk Wajah
Pilihan
-
Krisis! Kelangkaan BBM Meluas Tak Hanya Bali, Antrean Berjam-jam
-
Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud Bungkam usai Viral Sarapan di Singapura
-
KPK Kembali Gelar OTT: Amankan Sejumlah Pihak di BNPB
-
Ungkap Banyak Kasus Besar, Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Ade Safri Justru Diganti
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
Terkini
-
Anak Buah Bahlil Ungkap Biang Kerok Antrean BBM di Bali: Jangkar Kapal Tersangkut
-
Wajah Baru Jalan Burung-Burung ke Bili-Bili Gowa, Kini Lebih Cantik dan Penuh Warna
-
Maling Kabel Tembaga Berkedok Petugas PLN di Sigi Akhirnya Tertangkap
-
JK Ungkap Sisi Gelap Demokrasi Liberal Indonesia: Banyak Pejabat Tidak Punya Kapasitas
-
Kabut Asap Kepung Makassar, Masker Gratis Mulai Dibagikan ke Sekolah-sekolah