- 1,5 juta penderita penyakit jantung koroner
- Pelayanan non-medis di Malaysia dianggap lebih nyaman
- Perkembangan teknologi kedokteran membuat prosedur operasi jantung kini semakin maju dan minim risiko
SuaraSulsel.id - Penyakit jantung masih menjadi pembunuh nomor satu di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan RI mencatat, ada sekitar 1,5 juta penderita penyakit jantung koroner.
Setiap tahun, lebih dari 300 ribu kasus baru dilaporkan dengan angka kematian mencapai 45 persen.
Kondisi ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman penyakit jantung bagi masyarakat Indonesia.
Di tengah tingginya prevalensi penyakit jantung tersebut, sebagian orang memilih berobat ke luar negeri, khususnya Malaysia.
Penang, misalnya, sudah lama dikenal sebagai tujuan medical tourism warga Indonesia.
Namun, menurut dokter spesialis bedah jantung dan pembuluh darah di Indonesia, dr Sugisman, Sp.BTKV(K), langkah itu sebetulnya tidak perlu dilakukan.
"Semua teknologi yang ada di Malaysia juga ada di Indonesia. Ngapain ke sana, lebih mahal. Di RS Premier Bintaro alatnya lengkap, di rumah sakit pemerintah pun begitu. Justru di sini dokternya lebih terampil karena pasiennya lebih banyak dibanding Malaysia," ungkapnya dalam sesi edukasi kesehatan bertajuk Perkembangan Bedah Jantung Terkini di Kota Makassar, Sabtu, 28 September 2025.
Sugisman tidak menampik bahwa ada beberapa faktor yang membuat sebagian masyarakat lebih memilih berobat ke Malaysia.
Salah satunya adalah pelayanan non-medis yang dianggap lebih nyaman.
Baca Juga: Jenazah TKI Asal Gowa Akan Dipulangkan, Majikan di Malaysia Siap Tanggung Jawab
"Kadang-kadang kita kalahnya di servis. Di Penang, baru turun dari pesawat sudah dijemput pihak rumah sakit. Lalu lintasnya juga lebih lancar, berbeda dengan Jakarta yang baru keluar bandara saja sudah macet," ujarnya.
Faktor lain adalah soal harga alat kesehatan. Menurut Sugisman, Malaysia bisa menekan biaya karena pajak alat kesehatan di sana rendah.
Sementara di Indonesia, alat kesehatan dikategorikan barang mewah sehingga dikenakan pajak tinggi.
"Itu membuat harga barang lebih mahal dan akhirnya biaya penggunaan alat juga lebih tinggi," katanya.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa secara teknologi dan keterampilan tenaga medis, Indonesia tidak kalah. Bahkan, justru memiliki pengalaman klinis yang lebih banyak.
Operasi Jantung di Indonesia Kian Modern
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
Terkini
-
MK: Syarat Minimal Usia Calon Kepala Desa Tetap 25 Tahun
-
Anak Anda 'Diasuh' Algoritma? Ini Peringatan Keras untuk Para Ayah
-
Viral Isu Mahasiswa Difabel Diminta Keluar Asrama, Ini Penjelasan Resmi Unhas
-
Hakim Perintahkan Jaksa Bebaskan Bahtiar Baharuddin: Penahanan Tidak Sah
-
Selvi Ananda Gibran Bersama 5.000 Ibu PKK Akan Serbu Kota Makassar