Jenderal yang Menanggalkan Gelar Andi, Kini Bergelar Pahlawan Nasional

Jenderal Jusuf membawa pesan Presiden Soeharto saat menunjuknya memimpin ABRI mewujudkan kemanunggalan ABRI dengan rakyat.

Muhammad Yunus
Minggu, 08 November 2026 | 10:16 WIB
Jenderal yang Menanggalkan Gelar Andi, Kini Bergelar Pahlawan Nasional
Jenderal Muhammad Jusuf [Arsip Perpustakaan Nasional]
Baca 10 detik
  • Pada 1981, Jenderal M. Jusuf menggunakan pesawat Hercules TNI-AU untuk mewujudkan kemanunggalan ABRI dengan rakyat di berbagai daerah.
  • Sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan, ia merombak asrama prajurit, menaikkan uang lauk-pauk, serta meningkatkan kesejahteraan tentara.
  • Pemerintah mengesahkan Jenderal M. Jusuf sebagai Pahlawan Nasional yang akan menerima gelar di Istana Negara pada November 2026.

SuaraSulsel.id - Pada 1981, dua pesawat Hercules C-130 H(S) tiba untuk memperkuat armada angkut berat TNI-AU.

Pesawat itu termasuk yang paling modern di zamannya. Keduanya, bernomor registrasi A-1314 dan A-1341 ditempatkan di Skadron Udara 17 VVIP.

A-1314 lalu lebih sering dipakai Jenderal M. Jusuf, Menteri Pertahanan dan Keamanan merangkap Panglima ABRI untuk berkeliling daerah.

Tujuannya bukan memamerkan kekuatan udara. Ia membawa pesan Presiden Soeharto saat menunjuknya memimpin ABRI mewujudkan kemanunggalan ABRI dengan rakyat.

Baca Juga:Hari Pahlawan 2026, Cucu Bau Massepe Ajak Generasi Muda Lanjutkan Perjuangan

Bangsawan yang Tak Mau Dipanggil Andi

Muhammad Jusuf lahir di Mare, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, 23 Juni 1928. Ia keturunan bangsawan Bugis dan berhak menyandang gelar Andi.

Gelar itu ia tanggalkan. Ia tak ingin kebangsawanan jadi penghalang dalam bergaul dengan masyarakat luas. Ia ingin bergaul bebas tanpa jurang pemisah.

Sikap itu kelak tercermin dalam cara ia memimpin Departemen Hankam. Sebuah buku tentang dirinya menyebut Jusuf "senang bergaul dengan kalangan bawah".

Jenderal M Jusuf
Jenderal M Jusuf

Dari Resimen ke Kabinet

Baca Juga:Fatmawati Rusdi Ajak Generasi Muda Menjadi Pahlawan Masa Kini

Jusuf masuk ketentaraan sejak 1945. Ia pernah menjadi Kepala Staf Resimen 24 Manado dan perwira operasi TT-VII/Indonesia Timur, lalu Komandan Resimen Hasanuddin.

Setelah ikut menumpas pemberontakan DI/TII pada 1961, ia dipercaya memimpin Kodam XIV/Hasanuddin. Pendidikan militernya ditempuh di dalam dan luar negeri, termasuk Infantry Advanced Course di Fort Benning, Amerika Serikat.

Ia lalu ditarik ke Jakarta. Dekat dengan Presiden Soekarno, ia diangkat menjadi Menteri Industri Ringan di Kabinet Dwikora dan hadir dalam sidang kabinet di Istana pada 11 Maret 1966.

Jabatan menteri lain menyusul. Dari Perindustrian Dasar, Perdagangan, hingga Perindustrian, sampai Maret 1978.

Maka ketika Soeharto menunjuknya sebagai Menhankam/Pangab pada 1978, banyak yang bertanya-tanya. Kariernya tak banyak berkutat di bidang militer, dan ia lebih dikenal sebagai menteri bidang industri.

TNI Jangan Sakiti Hati Rakyat

Jusuf menjawab keraguan itu lewat tindakan. Langkah pertamanya setelah dilantik adalah memperbaiki dan merombak asrama prajurit yang rusak, terutama di pelosok.

Ia tak tega melihat prajurit tinggal di bangunan yang bocor kala hujan dan terik kala panas. Keluarga prajurit pun belum menikmati lampu listrik di malam hari, padahal Indonesia sudah puluhan tahun merdeka.

Uang lauk-pauk dinaikkan tiga kali lipat. Kaus kaki, sepatu, pakaian, hingga persenjataan diperbaiki setahap demi setahap.

Ia juga berpesan kepada prajurit di mana pun bertugas agar tak menyakiti hati rakyat, sebab TNI berasal dari rakyat.

Kesederhanaan itu ia berlakukan ke dalam. Markas TNI tak boleh dibangun dengan pendingin ruangan, apalagi permadani.

Pejabat yang berkunjung ke daerah tak boleh dikawal khusus kecuali Presiden dan Wakil Presiden.

Prajurit dilarang merokok karena tak sehat dan mahal. Jusuf sendiri tak merokok, rajin berolahraga di sekitar rumah dan dikenal tekun beribadah.

jenderal jusuf
jenderal jusuf

Rumah Tanpa Pengawal

Ia juga menolak diwawancarai. Menurut catatan yang beredar, bukan karena tak suka wartawan, melainkan karena tak mau tampil seolah dirinya yang paling berjasa bagi negara.

Istrinya pun enggan diwawancarai dan tak punya ajudan, bebas berbelanja ke pasar tradisional tanpa pengawalan.

Rumah dinas tak dijaga. Ajudan hanya bertugas pada jam kantor, selebihnya Jusuf mengurus keperluannya sendiri.

Pasangan ini pernah dikaruniai seorang putra yang meninggal pada usia delapan tahun.

Dari kebiasaan inilah muncul kisah pohon hias.

Suatu hari tanaman kesayangannya di halaman rumah lenyap. Sang ajudan kelimpungan karena dimarahi panglimanya.

Ia bingung menjawab, sebab Jusuf sendiri yang tak mau rumahnya dikawal.

Turun ke Barak

Jusuf tak puas hanya duduk di belakang meja. Lewat program ABRI Masuk Desa, prajurit dikirim ke pelosok membantu pembangunan infrastruktur.

Ia rutin keliling daerah menengok kondisi tentara beserta keluarganya dan terjun langsung ke barak. Di mata prajurit, reputasinya pun membaik.

Namanya lalu melampaui lingkungan militer. Ke mana pun ia pergi, banyak orang ingin melihatnya, walau popularitasnya tetap di bawah Soeharto.

Kabar bahwa ia cocok menjadi pengganti presiden atau calon wakil presiden pun berembus.

Dingin dari Cendana

Popularitas itu rupanya membuat Soeharto waswas. Hubungan keduanya mendingin.

Menurut kisah yang beredar, Jusuf pernah menggebrak meja di hadapan Presiden dan para pejabat saat ditanya apakah ia punya ambisi pribadi.

Kecewa, ia makin sering mengutus wakilnya bila ada pertemuan dengan Soeharto. Rumor wakil presiden pun sirna dan jabatannya sebagai panglima digeser ke kursi Ketua Badan Pemeriksa Keuangan.

Gelar yang Lama Tertunda

Sejak 2019, namanya berulang kali diusulkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menjadi Pahlawan Nasional, tetapi tak kunjung disahkan.

Penantian panjang itu berakhir pekan ini. Surat Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial bernomor 1931/5.5/PB.06.00/11/2026, tertanggal 6 November 2026, memberi kepastian.

Surat itu ditujukan kepada Kepala Dinas Sosial Sulawesi Selatan, Malik Faisal dan menindaklanjuti surat Sekretaris Militer Presiden Nomor 17/KSN/SM/GT.03.00/11/2026 tertanggal 5 November.

Dinas Sosial diminta menyiapkan satu ahli waris dan satu pendamping untuk hadir dalam upacara di Istana Negara, Jakarta, 10 November 2026 yang dijadwalkan dipimpin Presiden Prabowo Subianto.

Lelaki yang dulu menanggalkan gelar Andi itu akan menerima gelar lain dari negara. Ya, dia pahlawan nasional asal Mare, Bone, Sulawesi Selatan.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini