'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600

Pernyataan Prabowo bahwa warga desa tak terdampak pelemahan rupiah dinilai keliru. Depresiasi kurs memicu kenaikan harga pangan dan pupuk yang memukul daya beli rakyat

Budi Arista Romadhoni
Senin, 18 Mei 2026 | 20:03 WIB
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
Pedagang di Pasar Terong Makassar mengeluhkan daya beli masyarakat menurun di tengah kenaikan harga sejumlah bahan pokok. (SuaraSulsel.id/Lorensia Clara)
Baca 10 detik
  • Presiden Prabowo menyatakan masyarakat desa tidak terdampak pelemahan rupiah karena tidak melakukan transaksi langsung menggunakan mata uang dolar.
  • Depresiasi rupiah ke level Rp17.600 memicu kenaikan harga kebutuhan pokok yang menurunkan daya beli masyarakat di pasar tradisional.
  • Pakar ekonomi menegaskan pelemahan rupiah berdampak pada kenaikan harga pupuk dan pangan bagi warga desa melalui mekanisme pasar.

Pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Makassar, Abdul Muttalib Hamid, menilai anggapan bahwa warga desa kebal terhadap pelemahan rupiah adalah pandangan yang keliru dalam ekonomi modern.

Meski tak bertransaksi dengan dolar, hampir seluruh aspek kehidupan mereka dipengaruhi oleh nilai tukar melalui mekanisme exchange rate pass-through.

"Pelemahan rupiah di atas Rp17.600 per dolar AS bukan sekadar isu makro ekonomi, tetapi langsung menjalar ke hidup masyarakat bawah, terutama petani," jelas Abdul, Senin (18/5/2026).

Ketika rupiah melemah, harga barang impor—termasuk bahan baku industri, energi, pupuk, hingga komoditas pangan seperti gandum dan kedelai—ikut naik. Dampaknya menjalar menjadi inflasi di tingkat konsumen, yang paling terasa di desa karena porsi pengeluaran untuk pangan dan energi yang besar.

Baca Juga:Rp9 Triliun untuk Renovasi Rumah, Fahri Hamzah: Jangan Lagi BAB di Tempat Terbuka

"Warga desa memang tidak membeli dolar, tetapi mereka membeli bensin, pupuk, minyak goreng, pakan ternak dan kebutuhan lain yang harganya ikut terdorong naik," tegasnya.

Sektor pertanian menjadi sangat rentan. Kenaikan harga pupuk seperti urea dan NPK akibat pelemahan rupiah menipiskan margin keuntungan petani dan berpotensi memicu pengurangan tenaga kerja.

Dampak sistemik juga mengancam sektor konstruksi, di mana harga material proyek mengalami penyesuaian, berpotensi menghambat investasi dan memicu PHK di kota.

"PHK di kota akan memicu urbanisasi balik ke desa tanpa tersedianya lapangan kerja baru. Beban ekonomi pedesaan akan semakin berat," Abdul mengingatkan.

Masyarakat desa memang tidak memegang dolar, namun setiap lonjakan harga di pasar adalah bukti nyata bahwa gejolak kurs telah merambat hingga ke meja makan mereka.

Baca Juga:Jusuf Kalla: Prabowo Siap Jadi Mediator Konflik Iran, Asalkan...

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini