Budi menambahkan, salah satu alasan mahalnya biaya pendidikan spesialis dokter karena adanya kejadian seperti itu.
Ada banyak sekali pengeluaran tidak resmi yang dibebankan kepada mahasiswa.
"Ada permintaan-permintaan pribadi, mulai dari yang sopan sampai sangat tidak sopan. Termasuk permintaan hotel, tiket, dan lain-lain," bebernya.
Budi menegaskan, Kemenkes berkomitmen menindaklanjuti temuan ini dan mendorong reformasi dalam pendidikan dokter spesialis serta sistem pelaporan yang lebih aman dan efektif.
Baca Juga:Viral! RS Unhas Dituding Tolak Pasien Gawat Darurat, Ini Penjelasan Pihak Rumah Sakit
Jalur pelaporan akan terus dibuka dan setiap temuan akan ditindak secara tegas.
Akan tetapi, perundungan yang terjadi lingkungan pendidikan kedokteran tampaknya merupakan fenomena gunung es.
Jumlah kasus yang terlapor diyakini hanya sebagian kecil dari kenyataan yang terjadi di lapangan.
Data di atas pun menjadi sorotan serius terhadap iklim kekerasan psikologis di institusi pendidikan kedokteran.
Di Fakultas Kedokteran Unhas, misalnya, laporan-laporan yang masuk ke Kemenkes menggambarkan pola kekerasan yang berulang.
Baca Juga:Kapan UTBK 2025 Unhas? Ini Jadwal dan Kesiapan Terbaru dari Panitia
Tanggapan Unhas
Namun, hingga kini, Dekan Fakultas Kedokteran Unhas melalui Kepala Bagian Humas Unhas, Ishaq Rahman, mengaku pihaknya belum menerima rincian data terkait temuan tersebut.
Ishaq menyebut, data yang disampaikan Kementerian Kesehatan masih perlu didalami lebih lanjut agar bisa menjadi bahan evaluasi yang konstruktif.
"Unhas belum menerima detail data temuan tersebut. Kami juga menunggu, karena informasi yang disampaikan masih perlu didalami," ujarnya, Senin, 5 Mei 2025.
"Kami menghormati dan menghargai data Kemenkes, namun tetap berharap ada ruang untuk mendiskusikannya demi perbaikan ke depan," lanjutnya.
Ia menambahkan, Fakultas Kedokteran Unhas membawahi tiga program studi. Yakni Ilmu Kedokteran, Kedokteran Hewan, dan Psikologi.