Kedatangan mereka disambut sukacita oleh warga. Bagaimana tidak, dengan SuperSun, warga akhirnya bisa menikmati listrik 24 jam.
Salah satunya dirasakan Rapida. Ia tak menyangka PLN akan datang menerangi desa mereka dari kegelapan semenjak Indonesia merdeka.
Kata Rapida, sebelum ada SuperSun, warga hanya menikmati listrik dari pukul 18.00 hingga 22.00 wita. Itu pun hanya untuk lampu penerangan saja.
"Sebelumnya kami menggunakan genset dusun yang menyala lima jam. Itupun hanya lampu penerangan saja. Alhamdulillah sekarang ini kami sudah bisa menyala 24 jam. Rumah kami tidak lagi gelap," ujarnya.
Warga juga harus merogoh kantong Rp 90.000 per bulan untuk membeli bahan bakar genset. Nominal itu tak sebanding dengan pendapatan mereka yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan.
Baca Juga:Pelanggan PLN, Ini Cara Manfaatkan Mobile Banking BRImo
Tapi berkat SuperSUN, biaya yang dikeluarkan jauh lebih hemat. Cukup Rp40.000 per bulan sudah bisa menikmati listrik 24 jam penuh.
"Sebelumnya, kami harus menyeberang laut selama 30 menit ke Malangke hanya untuk membeli kebutuhan sehari-hari," ujar Rapida.
Kini, mereka bisa menikmati listrik di siang hari. Hasil tangkapan para nelayan juga bisa disimpan di mesin pendingin sehingga tidak dikhawatirkan membusuk.
"Sekarang dengan listrik 24 jam, kehidupan kami jauh lebih mudah. Kami bisa bikin usaha untuk tambah-tambah penghasilan," ucapnya.
Ya, masyarakat Lamiko-miko sudah bisa penuhi energi dari memanfaatkan matahari. Tak lagi bergantung pada genset yang terdengar bising.
Baca Juga:Pinrang Siap Jadi Surga Investasi: Listrik Angin Hingga Bioskop Modern
"Semenjak Indonesia merdeka belum pernah listrik masuk. Alhamdulillah, hari ini menyala. Kami tidak lagi bergantung pada genset," ucapnya dengan nada getir.