"Hanya untuk pekerja dan kepentingan perusahaan selama ini," kata Adji.
Adji mengaku ditugaskan sebagai ketua tim perencanaan bisnis untuk Bandara Sorowako. Mulai dari desain, hingga kelaikan operasional.
Menurut Adji, jika ingin dikomersilkan, maka Pemprov Sulsel harus melakukan banyak pembenahan. Mulai dari perpanjangan runway, hingga pengoperasiannya.
Saat ini, bandara itu hanya bisa dilandasi pesawat ATR 42. Panjang landasan pacunya hanya 800 meter. Sementara, kapasitas penumpang yang bisa diangkut maksimal 40 orang.
Baca Juga:APDB 2022 Diduga Diutak-atik, DPRD Tolak Surat Pemberitahuan Parsial Pemprov Sulsel
Jika ingin dikomersialkan, maka butuh pesawat yang lebih besar, yakni ATR72. Landasan pacunya juga mesti ditambah. Minimal sampai 1.600 meter, sama seperti di Toraja.
Yang jadi masalah adalah, landasan pacu di Bandara Sorowako terbatas. Jika ditambah 1.600 meter, maka ada obstacle atau kendala.
"Ada yang kena lapangan golf, ada yang kena tebing jadi harus dikikis. Ini yang jadi masalah karena obstacle. Lahannya terbatas di kedua ujung runway," bebernya.
Kendati demikian, kata Adji, bandara tersebut belum bisa dikelol secara penuh oleh Pemprov Sulsel. Butuh biaya yang besar.
Menurutnya, Kementerian Perhubungan harus melakukan subsidi terlebih dahulu. Makanya pengelolaannya atas kewenangan Kemenhub juga.
Baca Juga:BI Sulsel Serahkan Uang Rupiah Cetakan Baru Nomor Seri Tahun Kelahiran Gubernur Andi Sudirman
"Tentu harus ada subsidi sambil membenahi kawasan sesi daratnya. Contoh terminal, harus ada fasilitas lain seperti restoran, kemudian parkiran ditata. Itu bisa jadi revenue buat Pemda dan Pemprov," Kata Adji.