Keluarga sangat menyayangkan sikap dokter bedah dan pihak Rumah Sakit Multazam. Membiarkan pasien keluar dengan kondisi luka di perut yang tidak terjahit. Pasien keluar tidak diberikan obat apa pun.
Tidak ada resep obat. Bahkan tidak direkomendasikan lagi untuk dilakukan perawatan intensif ke rumah sakit lain, dan hanya disuruh berdoa.
![Ketua IDI Provinsi Gorontalo dr. Irianto Dunda [gopos.id]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/10/17/69866-idi-gorontalo.jpg)
Keluarga Inisiatif Bawa Korban ke Rumah Sakit Lain
Selanjutnya pada hari kamis tanggal 7 oktober 2021, pasien dibawa ke RSAS dan ditangani oleh Dokter Enrico Ambang Banua Medellu, Sp.B, atas inisiatif dari keluarga.
Baca Juga:Razia Kartu Vaksin Covid-19 di Gorontalo
Setelah dilakukan perawatan, kemudian diagendakan untuk operasi pada hari sabtu tanggal 9 Oktober 2021. Dimana pada saat tindakan operasi, dokter Enrico mengajak suami pasien ke dalam ruang operasi.
Dokter menunjukkan secara langsung. Bahwa tidak ada kista sebesar berukuran 5,0 dan dan miom berukuran 9,8 sebagaimana yang disampaikan oleh dokter pertama yang melakukan operasi.
“Jadi tidak ada kista sebesar berukuran 5,0 dan dan miom berukuran 9,8. Sebagaimana yang disampaikan oleh dokter pertama yang melakukan operasi,” ungkap YH.
YH melanjutkan, bahkan tidak terdapat pelengketan usus di dinding perut. Sebagaimana yang disampaikan oleh dokter sebelumnya.
“Faktanya yang terjadi adalah, terdapat usus besar dan usus halus serta empedu yang tersayat akibat operasi sebelumnya,” tegas suami Korban YH, yang mengulangi keterangan dari dokter Enrico.
Baca Juga:Tersinggung Dengar Suara Knalpot Motor, Pengendara Motor Ditikam
Terpisah pihak rumah sakit Multazam Gorontalo sejauh ini belum dapat dikonfirmasi. Ketika gopos.id ke Rumah Sakit Multazam, pihak manajemen rumah sakit tidak berada di tempat.