Anak-Anak Penghafal Alquran Diancam Parang, Anggota DPRD Pangkep Dilaporkan ke Polisi

Pengancaman terhadap anak-anak tahfidz atau penghafal alquran menggunakan senjata tajam

Muhammad Yunus
Sabtu, 24 Juli 2021 | 06:29 WIB
Anak-Anak Penghafal Alquran Diancam Parang, Anggota DPRD Pangkep Dilaporkan ke Polisi
Diduga Anggota DPRD inisial AM membangun pagar tembok menutup jalan masuk rumah penghafal Alquran di Makassar, Jumat 23 Juli 2021 [SuaraSulsel.id / Dokumentasi Binmas Masale]

"Dengan lancangnya, entah kapan itu si anggota dewan tersebut menutup pintu pondok kami dan tetangga kami. Ditutup dengan semen tanpa ngomong kepada pemilik rumahnya dan kami juga," katanya.

"Alasannya sangat tidak rasional dan tidak masuk akal sekali. Pertama, itu tahah milik pribadinya, padahal menurut Bu Lurah dan Pak Camat termasuk Pak RW, itu tanah bukan milik siapa-siapa. Itu fasilitas umum. Kedua, takutnya anak-anak keluar lagi bikin kegaduhan atau buang sampah sembarangan. Sangat tidak rasional sekali. Makanya bukan cuma saya yang berniat melaporkan ini anggota dewan. Sekarang pemilik rumah tersebut juga melaporkan bahkan sudah sampai ke bapak wali kota," sambung Wasid.

Parahnya lagi, salah satu penyebab Anggota Dewan Kabupaten Pangkep itu diduga nekat menutup akses jalan di pintu belakang karena merasa risih mendengar keributan anak-anak santri di Rumah Tahfizh Quran Nurul Jihad, Makassar yang tengah menghafal alquran.

"Itu salah satunya. Sudah lama itu masalahnya. Anak-anak ngaji di belakang, katanya menganggu. Tapi sudah lama kejadianya yang masalah mengajinya. Cuma pas anak-anak santri diwawancarai sama orang polsek, ya disebut semua kejadiannya," ungkap Wasid.

Baca Juga:Pilih Donor Darah dari Penghafal Alquran, Ustaz Yusuf Mansur Disebut Sombong

Wasid menyebut bahwa anggota dewan tersebut memang memiliki bangunan rumah di belakang Pondok Rumah Tahfizh Quran Nurul Jihad Makassar. Namun, ia belum dapat memastikan apakah anggota dewan itu memang tinggal di rumah tersebut selama ini.

"Di belakang itu rumahnya. Mengenai dia tinggal atau tidak. Saya tidak tahu karena saya baru ketemu itu anggota dewan nanti hari kejadian. Saya tidak pernah liat-liat orangnya. Tidak pernah ketemu, tidak pernah bertegur sapa. Tidak pernah. Baru kali itu saya ketemu," ujar Wasid.

Akibat penutupan tersebut, katanya, anak-anak di Pondok Rumah Tahfizh Quran Nurul Jihad, Makassar sudah tidak dapat mengakses jalanan lebih cepat bila ingin berangkat ke masjid. Mereka hanya dapat melewati pintu depan pondok tahfizh jika ingin pergi ke masjid.

"Situasi sekarang kosong. Insyaallah besok baru kembali ke Makassar. Yang ditembok kan pintu belakang, anak-anak masih bisa lewat pintu depan. Jadi pintu belakang itu sebenarnya aksesnya santri yang kamarnya di pintu belakang. Kalau misalnya takut telat ke masjid, kamar bagian belakang itu lewat situ karena lebih dekat lagi ke masjidnya. Tapi karena sudah ditutup sama si anggota dewan, semuanya lewat depan," katanya.

Senada dengan Wahid, Bhabinkamtibmas Kelurahan Masale, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar Bripka Muh Rais mengemukakan bahwa sesuai dengan pengaduan Ketua RW termasuk dengan korban yang dipagari tersebut diketahui sebelum terjadi pembangunan tembok di Rumah Tahfizh Quran Nurul Jihad Makassar itu terdapat kejadian yang sudah dilaporkan ke polisi.

Baca Juga:Beda Dari yang Lain, PPDB Bekasi Siapkan Jalur Penghafal Alquran

"Kejadinnya itu anak-anak ini biasanya kan di belakang rumah Tahfizh ini di jalanan yang di pagar itu menghafal Alquran. Merasa terganggu katanya dengan itu, kemudian anak-anak tahfizh ini entahkah dia olahraga, main bulutangkis dan menjemur pakaian di belakang. Kemudian merasa terganggu dan risih. Akhirnya waktu itu terjadi pengancaman yang dilakukan oknum ini mengejar anak-anak tahfizh menggunakan parang. Jadi masuk lagi ini anak-anak tahfizh di dalam rumah, bahkan sempat dirusak pintu rumah itu yang pintu belakang rumah tahfizh," beber Rais.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini