Daeng Ngintang hanya menggantungkan hidupnya dari mengumpulkan sampah. Jika ada botol minuman bekas, ia akan memungutnya dan dimasukkan ke dalam karung.
Setelah terkumpul penuh, ia akan membawanya sendiri ke Bank Sampah. Bank Sampah Lisana melakukan penimbangan dua kali dalam sebulan.
Kegiatan rutin ini dilakukan Daeng Ngintang selama kurang lebih enam tahun. Karena suaminya sudah meninggal.
Kini, ia tinggal bersama anak dan cucunya. Beban hidup semakin terasa berat karena anaknya sakit stroke dan cucunya memiliki kebutuhan khusus.
Baca Juga:Dinas Perpustakaan Makassar Sentuh Pustaka di SD Negeri Borong
"Sementara nenek ini harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarga setiap hari. Dia tulang punggung keluarga," ujar Juardi.
![Daeng Ngintang (80 tahun) nasabah Bank Sampah Lisana Kota Makassar / [SuaraSulsel.id / Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/02/18/81532-bank-sampah.jpg)
Juardi berharap ada perhatian dari pemerintah terhadap Nenek Ngintang. Di usianya yang sudah renta, Nenek Ngintang harusnya sudah istirahat.
Menurutnya, dari Daeng Ngintang kita bisa belajar bahwa sampah juga ternyata memiliki nilai ekonomi.
Direktur Yayasan Peduli Negeri Saharuddin Ridwan mengatakan, nenek Ngintang telah menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan. Dengan memilah sampah kemudian membawanya ke bank sampah untuk ditabung.
"Subhanallah uang hasil tabungan sampahnya selama setahun digunakan untuk bayar kontrakan rumahnya. Sehatki terus Daeng Ngintang. Sukses Pak Juardi Talli selaku Direktur Bank Sampah Lisana Manggala. Semoga menjadi contoh betapa pentingnya menjaga lingkungan, meningkatkan kepedulian sosial dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat," kata Saharuddin.
Baca Juga:Gabung Klub Korsel, Kecintaan Asnawi Mangkualam pada Makassar Tak Luntur
Kontributor : Lorensia Clara Tambing