- Universitas Hasanuddin dan Pemkab Situbondo menerapkan teknologi Ohmic Fermentation untuk meningkatkan kualitas kopi petani di Desa Baderan.
- Teknologi inovasi Prof. Salengke ini mempercepat proses fermentasi sehingga mampu meningkatkan harga jual kopi sebesar Rp50 ribu per kilogram.
- Penerapan teknologi ini dilakukan pada 14 Juni 2026 guna meningkatkan kesejahteraan ekonomi petani di lereng Gunung Argopuro tersebut.
SuaraSulsel.id - Siang itu, aroma kopi yang baru selesai diproses memenuhi sebuah rumah sederhana di Desa Baderan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.
Di teras rumah Kepala Desa, sejumlah petani tampak bercengkerama setelah pulang dari kebun. Senyum mereka terlihat biasa saja, namun menyimpan optimisme yang tidak kecil.
Di tengah suasana hangat itu, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Inovasi, Bisnis, dan Kewirausahaan Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Adi Maulana, menyaksikan langsung bagaimana sebuah inovasi kampus mampu menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat.
"Jujur, sebelum datang ke desa ini saya tidak membayangkan bahwa sebuah inovasi yang lahir di kampus dapat memberikan dampak langsung yang begitu nyata bagi masyarakat," ungkapnya dalam keterangan tertulis kepada Suara.com, Minggu 14 Juni 2026.
Desa Baderan dikenal sebagai salah satu sentra kopi di lereng Gunung Argopuro.
Selama bertahun-tahun, para petani menggantungkan hidup dari hasil panen kopi yang kualitas dan harganya sangat dipengaruhi oleh proses pascapanen.
Kini, sebuah cerita baru sedang ditulis di desa tersebut.
Melalui kolaborasi antara Universitas Hasanuddin dan Pemerintah Kabupaten Situbondo, para petani mulai mengenal teknologi fermentasi kopi modern yang berpotensi mengubah masa depan usaha mereka.
Teknologi itu bernama Ohmic Fermentation, sebuah inovasi karya Prof. Salengke, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin.
Baca Juga: Penjelasan Unhas Terkait 28 Mahasiswa Disebut Diskor Karena Kritik Program MBG
Mesin ini dirancang untuk mempercepat proses fermentasi kopi secara lebih terkontrol dan konsisten.
Hasil akhirnya bukan hanya proses produksi yang lebih efisien, tetapi juga kualitas cita rasa kopi yang meningkat secara signifikan.
Yang paling menarik, satu unit mesin Ohmic Fermentation memiliki kapasitas yang setara dengan sekitar 7.500 ekor luwak dalam menghasilkan efek fermentasi kopi premium.
Sebuah terobosan yang selama ini sulit dibayangkan dalam industri kopi nasional.
Dampaknya pun langsung dirasakan para petani.
Kopi yang sebelumnya diolah secara konvensional kini memiliki mutu yang lebih baik dan nilai jual yang lebih tinggi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Satu Mesin Setara 7.500 Luwak: Inovasi Unhas Ubah Nasib Petani Kopi Argopuro
-
Doa Agar Bisa Melihat Tak Terkabul, Pria Tunanetra Ini Justru Dapat Hadiah Lebih Indah di Makkah
-
Terungkap! Ini Alasan Pengunduran Diri Massal Kepsek SMA/SMK di Sulsel
-
Lari dari Siksa Suami, Istri Oknum Dosen UNM Resmi Lapor Polisi: Begini Kata Pihak Kampus
-
Proyek Strategis Nasional Blok Masela Dikawal Ketat Polisi