- Tim peneliti gabungan menemukan 43 individu Hiu Gangga yang terancam punah di Sungai Sesayap, Kalimantan Utara, pada 2023.
- Penemuan tersebut menjadikan Sungai Sesayap sebagai habitat penting dan wilayah konservasi internasional bagi keberlangsungan Hiu Gangga dunia.
- Pemerintah dan peneliti menyusun strategi perlindungan kolaboratif dengan masyarakat lokal melalui skema pengaturan tangkap yang minim konflik.
SuaraSulsel.id - Di tengah krisis kepunahan spesies laut dunia, secercah harapan muncul dari perairan Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara.
Di sungai berlumpur yang mengalir menuju pesisir utara Kalimantan itu, tim peneliti gabungan dari Universitas Hasanuddin, James Cook University, dan Universitas Borneo Tarakan menemukan kembali Hiu Gangga (Glyphis gangeticus).
Salah satu spesies hiu paling langka di dunia yang selama bertahun-tahun nyaris tidak pernah tercatat lagi keberadaannya.
Temuan itu menjadi perhatian penting dalam dunia konservasi global. Sejak tahun 2000, kemunculan Hiu Gangga tercatat kurang dari sepuluh kali di seluruh wilayah persebarannya, mulai dari Pakistan hingga Myanmar.
Spesies hiu sungai tropis ini bahkan telah masuk kategori Critically Endangered atau kritis terancam punah menurut International Union for Conservation of Nature.
Namun penelitian lapangan yang dilakukan pada 2023 menghadirkan fakta mengejutkan. Dalam waktu kurang dari tiga minggu, tim peneliti berhasil mendokumentasikan 43 individu Hiu Gangga di Sungai Sesayap.
Jumlah tersebut menjadikan kawasan itu sebagai salah satu habitat tersisa paling penting bagi kelangsungan hidup spesies yang populasinya diperkirakan tinggal kurang dari 250 individu dewasa di dunia.
Penemuan ini tidak hanya penting dari sisi ilmiah, tetapi juga memperlihatkan bahwa ekosistem sungai dan muara di Kalimantan Utara masih menyimpan biodiversitas yang selama ini luput dari perhatian.
Sungai Sesayap kini diketahui menjadi daerah asuhan atau nursery ground bagi hiu sungai langka tersebut.
Baca Juga: Pemanasan Global Ancam Kesehatan Warga Pesisir Makassar
Temuan itu turut dibahas dalam Workshop on Conservation Planning for the Ganges Shark (Glyphis gangeticus) yang digelar di Universitas Borneo Tarakan, Selasa (13/05).
Forum tersebut mempertemukan peneliti, pemerintah, organisasi nelayan, hingga pegiat konservasi untuk menyusun langkah perlindungan Hiu Gangga berbasis sains dan kondisi sosial masyarakat pesisir.
Mewakili Rektor Unhas, Prof. Rohani Ambo Rappe menegaskan bahwa riset ini merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam menghadirkan penelitian yang berdampak langsung terhadap perlindungan lingkungan.
“Temuan ini bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies langka, tetapi juga tentang bagaimana membangun model konservasi yang adil, kolaboratif, dan dapat diterima masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, peneliti dari James Cook University, Dr. Michael Grant, menyebut Sungai Sesayap telah ditetapkan sebagai Important Shark and Ray Area (ISRA) pada 2024.
Pengakuan internasional tersebut menegaskan pentingnya kawasan itu bagi keberlangsungan hiu dan pari langka dunia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
Terkini
-
Sampai di Puncak, Pendaki Gunung Tewas Disambar Petir
-
Bupati Gowa Digoyang Hak Angket Dugaan Perselingkuhan, Bisakah Berujung Pemakzulan?
-
Hak Angket Dugaan Skandal Bupati Gowa, Pakar Hukum: Apakah Sudah Sesuai Kriteria?
-
Jamaah An-Nadzir Akan merayakan Iduladha 26 Mei 2026, Ini Alasannya
-
Ada Tambang Emas di Pegunungan Gowa, Begini Penampakannya Saat Digerebek Polisi