- Universitas Hasanuddin dan Pemkab Situbondo menerapkan teknologi Ohmic Fermentation untuk meningkatkan kualitas kopi petani di Desa Baderan.
- Teknologi inovasi Prof. Salengke ini mempercepat proses fermentasi sehingga mampu meningkatkan harga jual kopi sebesar Rp50 ribu per kilogram.
- Penerapan teknologi ini dilakukan pada 14 Juni 2026 guna meningkatkan kesejahteraan ekonomi petani di lereng Gunung Argopuro tersebut.
Peningkatan harga mencapai sekitar Rp50 ribu per kilogram dibandingkan kopi yang diproses dengan metode biasa.
Bagi sebagian orang, angka tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi petani kopi di lereng Argopuro, tambahan nilai itu berarti lebih dari sekadar keuntungan usaha.
Itu bisa menjadi biaya pendidikan anak, tambahan modal untuk mengembangkan kebun, hingga tabungan untuk masa depan keluarga.
Melihat manfaat yang dirasakan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Situbondo memberikan apresiasi tinggi kepada Universitas Hasanuddin.
Pemerintah daerah menilai kehadiran teknologi tersebut menjadi salah satu solusi nyata dalam meningkatkan kesejahteraan petani kopi.
Bagi Adi Maulana, apa yang terjadi di Baderan menjadi gambaran nyata tentang makna sebuah perguruan tinggi yang benar-benar hadir untuk masyarakat.
Menurutnya, riset seharusnya tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah atau tersimpan di laboratorium. Inovasi harus mampu menjawab kebutuhan nyata dan memberikan manfaat langsung bagi kehidupan masyarakat.
Semangat itulah yang terus didorong Unhas sejak 2022 melalui transformasi menuju kampus berdampak di bawah kepemimpinan Rektor Prof. Jamaluddin Jompa.
Berbagai hasil penelitian yang memiliki prospek ekonomi dan sosial terus didorong untuk memasuki tahap hilirisasi agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, dunia usaha, maupun sektor industri.
Baca Juga: Penjelasan Unhas Terkait 28 Mahasiswa Disebut Diskor Karena Kritik Program MBG
Mesin fermentasi kopi menjadi salah satu contoh bagaimana inovasi kampus mampu menembus batas-batas akademik dan hadir sebagai solusi di lapangan.
Di Desa Baderan, yang terlihat bukan sekadar peningkatan kualitas kopi. Yang terlihat adalah bagaimana ilmu pengetahuan mampu menghadirkan peluang baru, meningkatkan pendapatan, dan menumbuhkan harapan.
Perjalanan inovasi itu dimulai dari laboratorium di Makassar, lalu menempuh ratusan kilometer menuju kebun-kebun kopi di Situbondo.
Di sana, teknologi bertemu dengan kerja keras petani.
Dan ketika keduanya bersatu, lahirlah perubahan yang dapat dirasakan secara nyata.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah universitas bukan hanya diukur dari banyaknya jurnal yang diterbitkan atau penelitian yang dihasilkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bagaimana Cara Cek NIK Terindikasi Judol atau Tidak? Begini Langkah Mudahnya
- 25 Ribu Penerima Bansos di Sulsel Terindikasi Judol
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Khofifah dan Emil Hadiri Pameran Tunggal Lukisan SBY, Apresiasi Karya Presiden ke-6 RI
- Titik Terang Kabar Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby, KUA: Surat Rekomendasi Sudah Masuk
Pilihan
-
Usut Dugaan Korupsi KSO Pertamina EP, Kejagung Geledah Kantor Setda hingga Bapenda Kota Bekasi
-
Mekkah Diserang Houthi, Kemlu Minta WNI Hati-hati di Arab Saudi
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia
-
Kabar Buruk dari Italia: Jay Idzes Cedera 30-35 Hari Absen Bela Timnas Indonesia
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
Terkini
-
Belanja Makin Hemat, Dapatkan Diskon 25% dengan BRI Kartu Kredit
-
Ahmad Ali: Gelombang Besar Menuju Kemenangan PSI 2029 Dimulai dari Sulteng
-
KPK Ungkap Riwayat Tanah Kavling Pesantren Darul Istiqamah Maros, Minta Hak Warga Dituntaskan
-
Stadion Sudiang Makassar Disegel, Pembangunan Tribun Selatan Lumpuh!
-
29 ASN Kemensos di Sulsel Masuk Daftar PPATK Terindikasi Judi Online