- Nurdin dan Irwan merawat 40 ribu boks arsip sejarah di Dinas Perpustakaan Sulawesi Selatan sejak puluhan tahun lalu.
- Arsiparis menghadapi risiko kesehatan, paparan bahan kimia, serta keterbatasan anggaran saat melakukan fumigasi dan restorasi dokumen tua.
- Kurangnya kesadaran masyarakat dan ASN menjadi hambatan utama dalam pengelolaan arsip sebagai memori kolektif serta sejarah daerah.
SuaraSulsel.id - Di lantai tiga Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, ada satu ruangan yang tak semua orang bisa masuki. Pintunya tertutup rapat. Di depannya, terpasang sistem sidik jari dan kamera pengawas.
Tak ada suara selain dengung pendingin udara yang bekerja menjaga suhu tetap stabil. Itulah depo arsip. Ruang sunyi tempat ribuan ingatan disimpan. Di dalamnya, Nurdin, Arsiparis Ahli Madya berdiri di antara deretan puluhan ribu boks dan loker.
Tangannya bergerak lincah, mengatur posisi arsip dengan ketelitian yang nyaris tak berubah selama puluhan tahun.
"Arsip itu sifatnya rahasia, sangat security. Makanya di pintu itu ada sidik jari, ada CCTV," katanya saat ditemui Jumat, 10 April 2026.
Untuk masuk ke ruangan itu, tak cukup hanya izin. Setiap orang harus mengenakan alat pelindung diri. Baju putih, masker, dan perlengkapan lain yang melindungi tubuh dari debu dan mikroorganisme yang menempel di kertas tua.
Di ruangan itu tersimpan sekitar 40 ribu boks arsip dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Sebagian adalah arsip statis, sebagian lainnya arsip inaktif. Semuanya menyimpan jejak waktu yang tak tergantikan.
Bagi seorang Nurdin, ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah perjalanan hidup. Sejak 1 Maret 1989, ia telah bergelut dengan arsip.
Ia masih mengingat dengan jelas dokumen pertama yang ia tangani, arsip tentang Celebes--nama lama Pulau Sulawesi--yang ditulis dalam bahasa Belanda.
Ada pula arsip Negara Indonesia Timur (NIT) yang pernah ia rawat dengan tangannya sendiri.
Baca Juga: Emosi Tengah Malam, Perwira Polisi di Bulukumba Diduga Aniaya Warga
"Sudah 37 tahun saya berurusan dengan arsip," ujarnya.
Saat ini hanya ada dua orang yang diberi kepercayaan untuk menjaga depo arsip. Nurdin adalah salah satunya.
Di antara ribuan dokumen itu, ada arsip tertua yang berasal dari tahun 1826. Isinya tentang perdagangan kopra dari Pulau Selayar pada masa kolonial Belanda ditulis dalam bahasa yang kini tak banyak lagi dipahami.
"Arsip paling banyak dari Selayar. Yang tertua soal perdagangan kopra," katanya.
Namun, menjaga arsip bukan perkara sederhana. Di balik lembaran-lembaran kertas yang tampak rapuh, tersimpan risiko yang nyata.
Debu, jamur, hingga mikroorganisme dapat mengancam kesehatan siapa saja yang bersentuhan langsung dengan arsip.
Berita Terkait
-
Ditolak KUA, Ayah Tetap Nikahkan Anak di Bawah Umur dengan Pria 71 Tahun di Luwu
-
Selingkuh Berujung Petaka, Petani di Bone Tewas di Tangan Suami Dendam
-
Muhammadiyah Sulsel Serahkan Laporan Kasus Masjid Nurut Tajdid Barru ke Polda Sulsel
-
Tolong Tenang! Stok BBM di Sulawesi Selatan Aman, Meski Antrean Mengular
-
ASN dan Kepala Desa di Sulsel Latihan Militer Jadi Tentara Cadangan
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
Terkini
-
5 Kasus Teridentifikasi Penipuan Jual Beli Titik SPPG
-
Rp100 Miliar Disiapkan Untuk Pembangunan Jembatan Kembar Barombong
-
Kapolda Endus Kepentingan Politik Dibalik Maraknya Geng Motor di Sulawesi Selatan
-
Kronologi Pembunuhan Sadis Penjual Ikan di Gowa: Dibuntuti Lalu Dihabisi dengan Parang
-
Progres Jalan Batas GowaTondong Sinjai Capai 12 Persen, Pemprov Sulsel Kebut Proyek MYP