- Pemerintah Kota Makassar membangun fasilitas pengolahan sampah menjadi listrik di TPA Tamangapa seluas tujuh hektare pada April 2026.
- Proyek ini mengintegrasikan pasokan sampah dari Gowa dan Maros guna mencapai target seribu ton sampah setiap hari.
- Fasilitas senilai Rp3 triliun ini diproyeksikan menghasilkan listrik sebesar 20 hingga 25 megawatt dengan sistem teknologi ramah lingkungan.
"Ini konsepnya seperti insinerator besar. Sampah dibakar, menghasilkan panas, lalu dikonversi menjadi energi listrik," katanya.
Munafri juga memastikan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap potensi pencemaran.
Menurutnya, teknologi yang digunakan telah memenuhi standar lingkungan dan dirancang untuk meminimalkan emisi.
Nantinya, energi listrik yang dihasilkan tidak hanya digunakan di sekitar lokasi, melainkan akan disalurkan melalui jaringan utama PLN untuk memenuhi kebutuhan listrik di berbagai wilayah.
Proyek ini diperkirakan menelan investasi hingga Rp3 triliun.
Pendanaannya akan melibatkan pihak swasta sebagai pemenang tender, serta dukungan dari Danantara yang akan mensubsidi biaya listrik sekitar 20 sen dolar AS per kWh.
Kebijakan ini mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 yang bertujuan mempercepat pembangunan fasilitas waste-to-energy, sekaligus menghindari negosiasi harga yang berlarut-larut.
Pemerintah melalui PLN juga akan menanggung biaya tipping fee agar tidak membebani keuangan daerah.
Seiring dengan rencana tersebut, Pemkot Makassar juga mulai berbenah dalam sistem pengelolaan sampah di TPA.
Baca Juga: TPA Tamangapa Bakal Berubah Total: Makassar Beralih ke Sistem Sanitary Landfill, Ini Targetnya!
Praktik open dumping atau pembuangan sampah secara terbuka secara bertahap akan ditinggalkan dan beralih ke sistem sanitary landfill.
"Sekarang kita sudah petakan blok-blok yang akan ditutup setiap hari dengan tanah untuk mengurangi pencemaran," ujar Munafri.
Sementara, Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq menegaskan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi merupakan langkah cepat untuk mengatasi persoalan timbunan sampah yang terus meningkat.
Ia menyebut, tiga wilayah di Sulsel, yakni Makassar, Maros, dan Gowa menghasilkan 1.000 ton lebih sampah per hari.
Tanpa penanganan yang terintegrasi, jumlah tersebut akan terus menjadi beban lingkungan.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa solusi tidak boleh hanya berfokus pada hilir.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
- Usai Temuan Kamar Mewah, Ombudsman Garap Dugaan Pungli Rp150 Ribu per Minggu di Lapas Cibinong
- Menyakitkan Para Pencari Kerja, Guru Besar UGM: Perbuatan Gibran Tercela, Harus Diselesaikan
- 8 Sneakers Lokal Paling Nyaman dan Modis untuk Gaya Harian, Mulai Rp200 Ribuan
Pilihan
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
Terkini
-
Skakmat Peramal 'Indonesia Kolaps', Prabowo: Saya Lihat Langsung Masa Depan Indonesia Cerah
-
Kronologi 'COD' Geng Motor Warmen 27 Vs Tabe 22 di Makassar, 1 Tewas
-
Tragedi KM Virgo Transport 8: Nakhoda Hingga General Manager Diciduk Polisi
-
Bisnis Skincare Abal-Abal di Gowa Raup Rp100 Juta Per Pekan
-
Dosen Menangis Berujung Pengeroyokan Brutal di Fakultas Teknik Untad