Muhammad Yunus
Kamis, 05 Maret 2026 | 16:06 WIB
Andi Hasriani (51) sedang memasak dengan kompor biogas. Biogas tersebut dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk kebutuhan memasak sehari-hari, menggantikan tabung gas [SuaraSulsel.id/ANTARA/Humas PLN]
Baca 10 detik
  • PLN UID Sulselrabar melalui program TJSL menghadirkan biodigester 12 meter kubik di Dusun Bakae, Sinjai, untuk energi biogas warga.
  • Warga Dusun Bakae merasakan penghematan ekonomi signifikan dan peningkatan keamanan saat memasak menggunakan energi biogas ini.
  • Residu biogas dari kotoran sapi berpotensi dikembangkan menjadi pupuk organik dan pakan ternak untuk pertanian berkelanjutan.

SuaraSulsel.id - Sejumlah masyarakat yang berada di Dusun Bakae, Desa Saukang, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan mulai memanfaatkan energi biogas sebagai kebutuhan sehari-hari yang sumbernya dari Program PLN Peduli.

Program Biogas Kampung Energi Terpadu yang berada di Dusun Bakae merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Sulselrabar yang menghadirkan biodigester berkapasitas 12 meter kubik di wilayah tersebut.

Salah satu warga yang telah memanfaatkan energi biogas yakni Hasriani yang melalui keterangannya di Makassar, mengaku telah merasakan begitu besar manfaat dari energi terbarukan tersebut.

"Alhamdulillah, dengan biogas kami tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Dana yang tadinya dipakai untuk membeli tabung gas dapat digunakan untuk kebutuhan sekolah anak dan kebutuhan rumah sehari-hari,” ujar Hasriani, Kamis (5/3).

Bagi Hasriani, biogas merupakan solusi yang sangat nyata untuk kebutuhan sehari-hari yang meringankan beban ekonominya.

Sebelum adanya biogas, Hasriani mengatakan bahwa ia menghabiskan sekitar empat tabung gas atau sejumlah Rp72.000 per bulan untuk kebutuhan memasak sehari-hari di rumah.

Selain menghemat pengeluaran, kompor biogas ini dinilai lebih aman. Biogas bekerja pada tekanan rendah tanpa tabung, sehingga risikonya jauh lebih kecil dibandingkan tabung gas.

“Kalau pakai tabung gas, selalu ada rasa khawatir takut bocor atau meledak. Tapi sekarang dengan biogas, saya lebih tenang dan merasa aman saat memasak untuk keluarga,” tambahnya.

Hasriani mengakui bahwa energi biogas yang diperoleh dari kandang sapi di dusun tempatnya tinggal kini lahir energi baru yang menyalakan dapur, mengurangi beban ekonomi keluarga, menghadirkan rasa aman, dan menumbuhkan harapan.

Baca Juga: Waspada! Badan Geologi Ungkap Ancaman Gas Beracun dari Kawah Gunung Lokon

Alhasil, melalui biogas, kini warga melangkah mantap menuju masa depan yang lebih mandiri, bersih, dan berkelanjutan.

Manfaat biogas ke depan tidak hanya berhenti di dapur. Residu hasil pengolahan kotoran sapi berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk pertanian.

Pemanfaatan ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah, menekan biaya pupuk kimia, serta mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Selain itu, residu biogas juga berpeluang dikembangkan sebagai bahan pakan ternak, seperti ikan dan ayam, sehingga menciptakan siklus pemanfaatan yang saling menguatkan antara energi, pertanian, dan peternakan.

Yang membuat program ini semakin bermakna adalah keberadaan sapi-sapi yang menjadi sumber biogas berasal dari sapi milik warga penerima manfaat sendiri.

Dengan kata lain, pengelolaan energi ini benar-benar berbasis komunitas, dari warga, dikelola bersama warga, dan kembali memberi manfaat bagi warga.

Load More