- Kedatangan awal jung Tiongkok di Makassar pada masa lalu membawa komoditas dan jejak peradaban, kemudian komunitas Tionghoa dominan berdagang abad ke-17 dan ke-18.
- Komunitas Tionghoa berperan penting dalam ekonomi Makassar, memanfaatkan peran sebagai pemungut pajak kolonial dan membangun kemitraan ekonomi dengan Eropa.
- Setelah merdeka, komunitas terbagi dua (Totok dan Peranakan) dan kini menghadapi kehidupan yang lebih terbuka dengan partisipasi luas dalam berbagai sektor.
Gudang-gudang dan kantor milik pengusaha Tionghoa berdiri di pusat kota. Komoditas utama yang diperdagangkan meliputi kopra, kopi, rotan, damar, pala, kulit, mutiara, minyak kayu putih, hingga ikan asin dari Selayar.
Dalam praktik perdagangan, mereka kerap memberikan modal lebih dulu kepada pengumpul lokal untuk mendapatkan teripang dan hasil bumi lainnya.
Pola patron-klien ini menciptakan jaringan ekonomi yang saling bergantung antara pedagang Tionghoa dan masyarakat pribumi.
Pada 1930-an, sebagian besar bekas kuli Tionghoa beralih menjadi pedagang kecil atau pengusaha industri rumahan.
Mereka mendominasi perdagangan eceran, terutama di pusat-pusat niaga seperti Pasar Butung dan Pasar Sentral.
Namun, perjalanan komunitas ini tidak selalu mulus. Setelah Indonesia merdeka pada 1945, kedudukan warga Tionghoa secara hukum setara dengan warga lainnya.
Pada 1946-1948, jumlah warga Tionghoa di Makassar diperkirakan mencapai 25.000 jiwa, dengan sekitar 60 persen merupakan Tionghoa peranakan.
Komunitas ini terbagi dalam dua kelompok besar. Totok—mereka yang lahir di Tiongkok dan menetap di Indonesia—serta peranakan, yang telah berbaur dan menikah dengan penduduk lokal.
Tionghoa peranakan banyak berkiprah di berbagai bidang. Dari usaha kecil dan menengah hingga profesi seperti guru sekolah Katolik, dosen, dokter, dan tenaga kesehatan.
Baca Juga: Imigrasi Makassar Ubah Jam Layanan Selama Ramadan 1447 H, Cek Jadwal Barunya Sekarang!
Sementara Tionghoa totok umumnya lebih fokus pada usaha mandiri dan perdagangan.
Pada masa Orde Lama, pemerintah memberi ruang usaha yang relatif terbuka. Toko-toko Tionghoa tumbuh berderet di sepanjang ruas jalan kota.
Ragam usaha mereka meluas. Penggergajian kayu, pabrik sabun, pertukangan, dealer kendaraan, ekspor-impor, hotel, restoran, hingga perbankan.
Namun, sejarah juga mencatat periode sulit, terutama antara 1965 hingga 1997, ketika stigma dan tekanan sosial sempat membayangi kehidupan warga Tionghoa.
Banyak yang memilih menutup diri demi keamanan.
Kini, kondisinya jauh berbeda. Berdasarkan catatan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), jumlah warga Tionghoa di Makassar diperkirakan mencapai 30.000 hingga 40.000 jiwa, dengan konsentrasi tinggi di kawasan seperti Kelurahan Butung.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- 4 Shio Beruntung Hari ini 21 Agustus 2026 yang Diprediksi Terbebas dari Masalah Keuangan
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Ahli Waris Tagih Ganti Rugi Lahan Stadion Sudiang, Pemprov Sulsel : Sudah Bersertifikat dan Clear
-
Status Waspada! Gunung Karangetang Terus Muntahkan Lava Sejauh 1.000 Meter
-
Kemarau Panjang, 1.400 Hektare Lahan Pertanian di Parigi Moutong Terancam Gagal Panen
-
Enrekang Paling Parah! Ini Fakta-fakta 112 Kasus Karhutla Ludeskan Hutan Sulawesi Selatan
-
Direktur Perusahaan Buronan Korupsi Bank Sulselbar Ditangkap di Jakarta