- Kedatangan awal jung Tiongkok di Makassar pada masa lalu membawa komoditas dan jejak peradaban, kemudian komunitas Tionghoa dominan berdagang abad ke-17 dan ke-18.
- Komunitas Tionghoa berperan penting dalam ekonomi Makassar, memanfaatkan peran sebagai pemungut pajak kolonial dan membangun kemitraan ekonomi dengan Eropa.
- Setelah merdeka, komunitas terbagi dua (Totok dan Peranakan) dan kini menghadapi kehidupan yang lebih terbuka dengan partisipasi luas dalam berbagai sektor.
SuaraSulsel.id - Riuh rendah pelabuhan Makassar hari ini menyimpan jejak sejarah panjang.
Jauh sebelum gedung-gedung modern berdiri dan pusat perdagangan tumbuh pesat, jung-jung kayu dari Tiongkok telah lebih dulu berlabuh di pesisir kota ini.
Mereka datang membawa sutra, keramik, teh, tembakau, dan berbagai peralatan logam. Namun yang tertinggal bukan hanya barang dagangan, melainkan juga jejak peradaban.
Migrasi orang Tionghoa ke Nusantara berlangsung melalui jalur selatan, dengan tujuan yang berubah dari masa ke masa.
Pada awalnya, kedatangan mereka terkait misi kebudayaan dan eksplorasi. Seiring waktu, motif perdagangan menjadi semakin dominan.
Di berbagai wilayah, termasuk Makassar, komunitas Tionghoa perantauan pun terbentuk dengan kecenderungan kuat mempertahankan tradisi, kepercayaan, dan budaya leluhur mereka.
Dalam catatan sejarah, geliat perdagangan semakin terasa pada abad ke-17 dan ke-18 ketika wilayah ini berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda.
Aktivitas ekonomi berkembang, baik secara tradisional maupun modern.
Pedagang Tionghoa mulai menempati posisi penting dalam sektor perdagangan, industri, pertanian, hingga kerajinan.
Baca Juga: Imigrasi Makassar Ubah Jam Layanan Selama Ramadan 1447 H, Cek Jadwal Barunya Sekarang!
Bahkan, pemerintah kolonial memanfaatkan mereka sebagai pemungut pajak yang turut mengangkat posisi sosial sebagian komunitas ini dari buruh kasar menjadi kelompok terdidik dan berpengaruh.
Makassar sendiri meski pada awal abad ke-19 belum tergolong pelabuhan utama, memiliki keunggulan strategis. Letaknya terlindungi dari badai dan berada di jalur perdagangan penting.
Pedagang Melayu, Portugis, Jawa, dan Tionghoa singgah setelah melakukan transaksi di berbagai wilayah Nusantara.
Jung-jung (kapal) dari Tiongkok datang satu hingga tiga kapal sekaligus, memadati pelabuhan dengan komoditas bernilai tinggi.
Memasuki akhir abad ke-19, pedagang Tionghoa mulai membangun kemitraan dengan pengusaha Eropa. Seperti halnya di Batavia, Surabaya, Padang, dan Medan, mereka ikut ambil bagian dalam modernisasi ekonomi.
Pada paruh pertama abad ke-20, ketika pemerintah kolonial mengembangkan sektor pertanian di Sulawesi Selatan, Makassar ikut tumbuh sebagai pusat ekonomi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
- Usai Temuan Kamar Mewah, Ombudsman Garap Dugaan Pungli Rp150 Ribu per Minggu di Lapas Cibinong
- Menyakitkan Para Pencari Kerja, Guru Besar UGM: Perbuatan Gibran Tercela, Harus Diselesaikan
- 8 Sneakers Lokal Paling Nyaman dan Modis untuk Gaya Harian, Mulai Rp200 Ribuan
Pilihan
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
Terkini
-
Skakmat Peramal 'Indonesia Kolaps', Prabowo: Saya Lihat Langsung Masa Depan Indonesia Cerah
-
Kronologi 'COD' Geng Motor Warmen 27 Vs Tabe 22 di Makassar, 1 Tewas
-
Tragedi KM Virgo Transport 8: Nakhoda Hingga General Manager Diciduk Polisi
-
Bisnis Skincare Abal-Abal di Gowa Raup Rp100 Juta Per Pekan
-
Dosen Menangis Berujung Pengeroyokan Brutal di Fakultas Teknik Untad