- Mal Karebosi Link dan MTC di Makassar sepi aktivitas perdagangan, dengan sedikit pedagang buka lapak
- Pedagang bertahan meski omzet minim, sementara masyarakat kelas atas cenderung menabung daripada melakukan konsumsi di pusat perbelanjaan.
- Angka pengangguran Sulawesi Selatan naik pada Februari 2025, meskipun secara statistik angka kemiskinan tercatat menurun.
SuaraSulsel.id - Pukul 10.00 Wita, parkiran Karebosi Link nyaris kosong. Area yang dulu sesak oleh motor dan mobil kini hanya diisi dua truk pengangkut material bangunan.
Keduanya berhenti sebentar menurunkan barang untuk toko yang rencananya akan dibangun. Selebihnya sunyi.
Di dalam mal, suasananya tak jauh berbeda. Lorong-lorong panjang tampak lengang.
Dari ratusan lapak yang berjajar, hanya satu-dua pedagang terlihat membuka kios. Sebagian besar pintu toko tertutup rapat, dan berdebu.
Beginilah potret terkini Karebosi Link dan Makassar Trade Center (MTC), dua pusat perbelanjaan yang terhubung dan pernah menjadi denyut perdagangan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Dahulu, kawasan di sekitar Jalan Ahmad Yani ini dikenal sebagai pusat elektronik, pakaian, dan sepatu dengan harga terjangkau. Kini, denyut itu melemah.
Sastri datang ke tokonya sekitar pukul 09.30 Wita. Ia tahu pembeli tidak akan ramai.
Namun, setiap hari ia tetap membuka lapak, sebuah kios kecil yang menjual pakaian dalam dan kaus.
Bukan karena optimisme besar, melainkan karena tak ada pilihan lain.
Baca Juga: Memasuki Babak Baru, Ini 5 Fakta Kasus Rektor UNM Non Aktif Prof Karta Jayadi
"Kadang dalam sehari tidak ada pembeli sama sekali," kata Sastri pelan, Kamis, 29 Januari 2026.
Perempuan itu sudah berjualan di Karebosi Link sejak bertahun-tahun lalu. Ia menyebut, lima hingga enam tahun terakhir kondisi mal tak lagi sama.
Dulu, buka lapak dari pagi hingga malam hampir selalu ada transaksi. Kini, dari pukul 09.00 sampai 21.00 Wita, omzet Rp200 ribu saja sudah dianggap lumayan.
"Kadang dapat Rp200 ribuan, kadang tidak ada sama sekali. Ya mau bagaimana lagi," ujarnya.
Keramaian biasanya hanya terasa sesaat, itu pun menjelang Lebaran. Di luar momen tersebut, hari-hari para pedagang yang masih bertahan dihabiskan dengan duduk menunggu, menatap lorong yang sepi, sambil berharap ada satu-dua orang berhenti di depan tokonya.
Sastri bukan pemilik toko. Ia hanya penjaga lapak.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Kejahatan Kosmetik di Sulawesi Utara Tertinggi Kedua Nasional
-
10 Pelaku UMKM Difabel di Palu Terima Bantuan Modal Usaha
-
Berapa Harga Jual Maksimal Beras SPHP ? Bulog Awasi Pengoplosan di Kendari
-
Harga Cabai Merah Besar di Jayapura Tembus Rp120 Ribu per Kilogram
-
Gubernur Sulsel Resmikan Jalan Paleteang - Malimpung - Kabere, Akses 800 Ribu Warga Makin Lancar