- Wamenkes RI menyatakan Sulawesi Selatan prioritas penanganan TBC; Makassar terdapat 9.885 kasus diobati tahun lalu.
- Strategi baru fokus pada pemeriksaan aktif kontak erat di lingkungan rumah pasien untuk memutus rantai penularan.
- Pemerintah pusat menargetkan dukungan 20 alat rontgen di Makassar dan mengapresiasi program inovatif "Hantu Mesra".
SuaraSulsel.id - Sulawesi Selatan tercatat sebagai salah satu daerah dengan angka kasus tuberkulosis (TBC) tertinggi di Indonesia.
Fakta itu diungkap langsung Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin Paulus Octavianus saat melakukan kunjungan kerja ke Puskesmas Balaparang, Kota Makassar, Selasa, 13 Januari 2026.
Benjamin menyebut Sulsel masuk dalam delapan provinsi prioritas penanganan TBC bersama Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, Nusa Tenggara Timur, dan Sumatera Utara.
Delapan wilayah ini dinilai menyumbang beban kasus TBC terbesar secara nasional.
"Kota Makassar dengan penduduk sekitar 1,4 juta jiwa, tercatat memiliki 9.885 kasus TBC yang diobati pada tahun lalu. Ini angka yang besar dan menjadi perhatian serius pemerintah pusat," kata Benjamin.
Ia mengatakan strategi penanganan TBC di Makassar tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan pasif.
Pemeriksaan harus dilakukan secara aktif dengan menyasar lingkungan terdekat pasien.
Artinya, satu kasus TBC akan menjadi pintu masuk pemeriksaan kesehatan seluruh anggota keluarga dalam satu rumah.
"Kalau ada 9.800 kasus, berarti ada sekitar 9.800 rumah yang harus dikunjungi. Semua penghuni rumah diperiksa secara gratis. Bukan hanya TBC, tapi juga gula darah, tekanan darah, dan rontgen untuk mendeteksi kelainan paru, jantung, diabetes, dan hipertensi," jelasnya.
Baca Juga: Wali Kota Makassar Murka Lihat Pegawai Duduk Santai Merokok di Jam Kerja
Benjamin menegaskan langkah ini bukan sekadar mencari angka, melainkan memutus rantai penularan sejak dini. Pemeriksaan kontak erat atau tracing menjadi kunci utama.
Seluruh penghuni rumah penderita TBC akan dipastikan apakah tertular atau tidak, sehingga pengobatan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.
"Angka pastinya baru akan terlihat setelah satu tahun pelaksanaan. Tapi yang penting, sekarang kita punya data dasar. Targetnya, setelah tiga tahun intervensi, dampaknya harus terlihat. Kasus TBC di Makassar idealnya sudah mulai turun pada 2027 atau 2028," ujarnya.
Untuk mendukung upaya tersebut, pemerintah pusat menargetkan penyediaan 20 unit alat rontgen di Makassar. Satu alat rontgen diperkirakan dapat melayani sekitar 3.000 pasien.
Dengan kapasitas pelayanan sekitar 50 pasien per hari, pada 2026 diproyeksikan sedikitnya 60.000 warga Makassar akan menjalani pemeriksaan TBC.
Kunjungan Wamenkes ke Sulsel juga bertujuan meninjau langsung program hasil terbaik cepat atau quick win dalam pemberantasan TBC.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Gubernur Sulsel: Sekolah Rakyat Buka Jalan Menuju Generasi Emas 2045
-
Mahasiswa Sebut Rezim Prabowo-Gibran sebagai Bencana Nasional
-
Usai Dilantik Jadi Bupati Gowa, Darmawangsyah Muin Langsung Dihadapkan PR Besar
-
Ikan Endemik Terancam Punah, Aturan Pelepasliaran Ikan Asing Diperketat
-
850 Alat Perekam Pajak Disebar di Palu, Sasar Restoran hingga Tempat Hiburan