- Senat Akademik menetapkan enam nama bakal calon rektor yang akan bersaing memperebutkan 94 suara senator
- Proses penjaringan aspirasi dan sosialisasi akan berlangsung pada 6-13 Oktober 2025
- Puncak pemilihan dijadwalkan pada 3 November 2025 untuk menentukan tiga nama dengan suara terbanyak
Sebelum pemilihan, keenam bakal calon juga akan memaparkan visi misi dan program kerja di hadapan senator.
Forum ini menjadi salah satu kesempatan penting untuk menunjukkan kapasitas kepemimpinan sekaligus arah pengembangan universitas ke depan.
"Di situ senator bisa menilai langsung program dan kompetensi masing-masing calon. Jadi penjaringan aspirasi sekaligus sosialisasi," kata Bahruddin.
Ketua Pokja Penyaringan Calon Rektor Unhas 2026-2030, Profesor Hamka Naping menambahkan seluruh proses berjalan sesuai prosedur dengan empat standar operasional (SOP).
Mulai dari penyaringan aspirasi dan sosialisasi, penetapan panelis, penyampaian kertas kerja, hingga pemilihan rektor.
Pokja kini sedang menyiapkan panelis yang akan membedah kertas kerja calon rektor. Ada tiga panelis yang disiapkan.
"Dua dari pusat, yakni seorang akademisi dari bidang sains dan teknologi serta seorang birokrat dengan pengalaman pendidikan tinggi, plus satu panelis dari internal Unhas," jelas Hamka.
Menurutnya, keterlibatan panelis eksternal penting agar proses pemilihan tetap obyektif dan profesional.
"Sampai sekarang belum ditentukan siapa panelisnya, tapi kami pastikan mereka orang yang paham betul dunia universitas dan relasinya dengan dunia kerja," tambahnya.
Baca Juga: Terobosan Unhas! Ayam Alope: Lebih Cepat Tumbuh, Lebih Hemat Pakan, Lebih Untung
Hamka menegaskan, meski interaksi informal antar calon dan senator diperbolehkan, pihaknya menjamin seluruh tahapan tetap berjalan sesuai aturan.
"Kami pastikan proses penyaringan ini taat asas. Tujuan utamanya memilih rektor yang punya kapasitas memajukan Unhas. Jadi pilrek ini harus kredibel dan obyektif," katanya.
Proses pemilihan rektor Unhas memang selalu menjadi perhatian, mengingat posisi strategis kampus ini sebagai salah satu perguruan tinggi negeri terbesar di kawasan timur Indonesia.
Dinamika lobi dan pendekatan antar kandidat dengan senator diprediksi akan semakin intens menjelang pemungutan suara.
Namun bagi senat, sepanjang tidak ada pelanggaran etik maupun praktik politik uang, komunikasi antara bakal calon dan senator dianggap bagian wajar dari demokrasi kampus.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
- 4 Rekomendasi Sampo Urang-Aring untuk Menghitamkan dan Menyuburkan Rambut
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Waspada Penyakit Hewan! Begini Pemeriksaan Sapi Kurban di Pelabuhan Sulsel
-
Dituding Tak Objektif, Pemprov Sulsel Siap Buka-bukaan Seleksi Paskibraka Nasional
-
Cari Tiket Pesawat Murah Nonton Piala Dunia? Kunjungi BookCabin Travel Fair 2026
-
Pemprov Sulsel Genjot Program MYP untuk Perbaikan Jalan Strategis
-
Dugaan Rasisme dan Diskriminasi Seleksi Paskibraka, Begini Respons Pemprov Sulsel