- Senat Akademik menetapkan enam nama bakal calon rektor yang akan bersaing memperebutkan 94 suara senator
- Proses penjaringan aspirasi dan sosialisasi akan berlangsung pada 6-13 Oktober 2025
- Puncak pemilihan dijadwalkan pada 3 November 2025 untuk menentukan tiga nama dengan suara terbanyak
SuaraSulsel.id - Proses pemilihan Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) periode 2026-2030 mulai memasuki tahap penyaringan.
Senat Akademik menetapkan enam nama bakal calon rektor yang akan bersaing memperebutkan 94 suara senator.
Enam kandidat tersebut adalah Prof Jamaluddin Jompa (nomor urut 1), Marhaen Hardjo (2), Prof Budu (3), Prof Muhammad Iqbal (4), Zulfajri Basri (5), dan Prof Sukardi Weda (6).
Nomor urut ini akan digunakan dalam seluruh tahapan sosialisasi dan penjaringan aspirasi di tingkat fakultas.
Ketua Senat Akademik Unhas, Prof Bahruddin Thalib menjelaskan proses penjaringan aspirasi dan sosialisasi akan berlangsung pada 6-13 Oktober 2025.
Puncak pemilihan dijadwalkan pada 3 November 2025 untuk menentukan tiga nama dengan suara terbanyak.
"Dari 94 suara senator akan dipilih tiga calon dengan perolehan suara tertinggi. Tiga nama ini yang kami serahkan ke Majelis Wali Amanat (MWA) untuk tahap akhir pemilihan," ujarnya usai pengambilan dan penetapan nomor urut bakal calon rektor Unhas, Rabu, 1 Oktober 2025.
Saat ini terdapat 94 senator yang berhak memberikan suara. Mereka berasal dari 18 fakultas di Unhas.
Masing-masing fakultas diwakili empat senator ditambah dekan sebagai ex officio.
Baca Juga: Terobosan Unhas! Ayam Alope: Lebih Cepat Tumbuh, Lebih Hemat Pakan, Lebih Untung
Kata Bahruddin, untuk menjadi senator syaratnya jelas. minimal bergelar doktor dan tercatat sebagai pegawai aktif di Unhas.
"Nanti tahap akhir di MWA akan melibatkan pihak eksternal termasuk perwakilan pemerintah seperti suara menteri. Tapi di senat semua murni dari internal," jelas Bahruddin.
Ia menegaskan, selama masa penjaringan, para bakal calon diberi ruang untuk berinteraksi dengan senator. Baik dalam forum resmi maupun melalui komunikasi personal.
"Senat tidak mengatur aktivitas bakal calon di luar forum. Namanya juga proses pemilihan, pasti ada komunikasi. Mereka boleh saja menghubungi senator lewat Whatsapp ketemu, bahkan ajak makan-makan. Itu sah-sah saja selama tidak ada black campaign, sogokan, atau praktik curang lainnya," tegasnya.
Menurut dia, proses pendekatan semacam itu merupakan bagian dari dinamika pemilihan rektor.
Senator nantinya tidak hanya menilai visi misi, tapi juga bagaimana para calon membangun komunikasi dan menyampaikan gagasan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Harga Kulkas Mini 1 Pintu Termurah di Pasaran, Ini 3 Rekomendasinya Mulai Rp400 Ribuan
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 7 Rekomendasi sesuai Review
- Air Mawar Viva Dipakai Kapan? Ini Urutan Pemakaian dan Review Pembeli
Pilihan
-
Hakim Tolak Perlawanan Yaqut Cholil Qoumas, Sidang Korupsi Kuota Haji Berlanjut!
-
Meski Diterima Pimpinan DPR, Botok Pati Pastikan Aksi 27 Agustus Tetap Lanjut
-
Bawa Tuntutan Hukum Mati Koruptor, Botok Cs Diterima Masuk ke Rapat Paripurna DPR
-
Polisi Bubarkan Massa Aliansi Pati yang Galang Donasi di Depan DPR
-
Kemenag Bantah Nasaruddin Umar Mundur dari Menag: Isu Bursa Caketum PBNU Itu Spekulasi Liar