Dhonny menambahkan, inflasi di Sulsel juga masih cukup terkendali.
Pada April 2025, tingkat inflasi di Sulawesi Selatan tercatat sebesar 1,75 persen, bahkan mencatat deflasi sebesar 0,34 persen dalam sebulan.
Namun, Parepare mencatat inflasi tahunan tertinggi di Sulsel. Yakni 2,69 persen, meningkat 0,64 persen dibanding tahun lalu.
Menurut Dhonny, tingginya inflasi di Parepare lebih disebabkan oleh karakter wilayah yang bukan merupakan daerah produksi. Melainkan daerah konsumsi yang bergantung pada distribusi barang dari wilayah lain.
Secara umum, proyeksi pertumbuhan ekonomi Pulau Sulawesi diperkirakan naik dari 6,3 persen menjadi 6,4 persen.
Cukup lumayan dibanding pulau Jawa, Bali, Maluku dan Papua yang justru mengalami konstraksi.
Kata Dhonny, penopang ekonomi nasional di tengah gejolak global dan geopolitik saat ini hanya Sumatra dan Sulawesi.
Namun, kontribusi Sulawesi Selatan terhadap angka ini tergolong moderat.
Dengan mesin pertumbuhan yang melambat dan ekspor yang tidak sekuat dulu, ekonomi Sulsel dinilai belum benar-benar aman.
Baca Juga: Jangan Tertipu! Ini 5 Tips Aman Transaksi QRIS dari Bank Indonesia
"Risiko global masih sangat besar dan ekonomi kita belum cukup aman," tegasnya.
Sementara itu, Deputi Kepala BI Sulsel, Wahyu Purnama menekankan bahwa perang yang terjadi di Timur Tengah dan Eropa bukan hanya mengancam stabilitas keamanan global, tetapi juga berpotensi memperparah inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional hingga daerah.
"Perang Ukraina-Rusia saja sudah membuat inflasi dunia naik tajam. Sekarang muncul lagi konflik Israel-Iran yang jika membesar dan melibatkan sekutu-sekutu mereka, bisa berdampak luar biasa terhadap harga minyak dan emas dunia," kata Wahyu.
Ia menyebut, jika situasi ini berkembang menjadi konflik bersenjata nuklir, dampaknya bisa mengancam seluruh negara, bukan hanya ekonomi.
"Satu bom nuklir saja bisa meluluhlantakkan satu negara. Amerika memiliki sekitar 5.200 senjata nuklir, Rusia bahkan lebih dari 5.800. Kalau satu saja dijatuhkan, itu kiamat ekonomi," tegasnya.
Menurut Wahyu, Indonesia sebagai bagian dari ekonomi global tidak bisa luput dari efek domino konflik global. Salah satu potensi dampaknya adalah meningkatnya harga energi dan barang kebutuhan pokok, yang berujung pada inflasi tinggi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Masih Bayar Lebih Saat Pakai QRIS? BI Sulsel Tegaskan Pedagang Tak Boleh Lakukan Ini
-
Ini Wajah Baru Ruas Jalan Pangkajene-Rappang yang Ramah Pejalan Kaki
-
Desain Ulang Jembatan Barombong, Konsep Kembar Berubah?
-
KKB Bakar Pesawat di Kabupaten Yahukimo, Pilot Dikabarkan Tewas
-
1.184 Gempa Guncang Sulawesi Utara Sepanjang Mei