Pertama, ilmu hukum dan administrasi negara yang saya pelajari secara formal, memahamkan saya tentang kebenaran berbasis teoritik keilmuan. Kedua, pengalaman dalam birokrasi pemerintahan, memahamkan saya bahwa tujuan utama kepemerintahan adalah membangun rahmat bagi kehidupan seluruh masyarakat.
Di sana saya belajar menjadi pendengar untuk suara yang paling lirih sekalipun, agar mengetahui apa sesungguhnya yang dibutuhkan oleh masyarakat, dan mendorong sebanyak mungkin partisipasi masyarakat.
Ketiga, pengalaman berpolitik, yang memampukan saya membaca reaksi atas sebuah aksi. Di sana saya belajar untuk mampu melihat lawan politik sebagai sahabat, untuk mampu mematikan dendam di dalam diri, untuk mampu menghapus frasa "musuh" dalam kamus kehidupan. Pelajaran-pelajaran ini diperkuat oleh nasehat kehidupan kedua orang tua saya.
Dalam 20 tahun terakhir, diam-diam saya rutin membuka "kelas khusus" di warung kopi, di rumah, dan di kantor. Saya mengundang belasan profesor dan doktor dari berbagai latar pengetahuan untuk mendiskusikan sesuatu.
Mereka berbicara sesuai bidang ilmunya, diam-diam saya mendengar, menyimak, mencatat, bertanya, dan bahkan sembunyi-sembunyi merekam percakapan kolega yang maha terpelajar itu. Kenapa harus diam diam dan sembunyi-sembunyi? Agar wakil gubernur, gubernur atau menteri ini tidak terkesan kurang cakap.
Dengan itu, mestinya saya sudah berkali-kali menamatkan pendidikan doktoral, karena "kelas khusus" itu tidak diajari oleh satu guru besar dengan durasi 90 menit, tetapi saya sekaligus diajari oleh belasan guru besar dengan beragam bidang ilmu dalam waktu lebih dari dua jam.
Bagi saya, pidato pengukuhan ini merupakan pertanggungjawaban "pengetahuan senyap (tacit knowledge) yang saya punyai dan saya praktekkan dalam keterlibatan pada dunia pemerintahan.
Ini adalah pengetahuan dari lapangan, ini adalah pidato professor lapangan. Saya menjalani karir di dunia pemerintahan dengan memanfaatkan pengetahuan formal dari ilmu hukum dan administrasi negara dan kearifan lokal dari warisan leluhur Bugis-Makassar.
Dengan dasar itulah, pidato ini saya beri judul "Hibridisasi Hukum Tata Negara Positivistik dengan Kearifan Lokal dalam Mengurai Kompleksitas Kepemerintahan. Semoga pemikiran ini dapat dipetakan menjadi pengetahuan eksplisit dalam perspektif hukum tata negara dan kepemerintahan.
Baca Juga: Banyak Dapat Ilmu di Warung Kopi, Syahrul Yasin Limpo: Saya Profesor Lapangan
Hadirin yang saya muliakan,
Konsep hibridisasi dalam judul ini sebagiannya diinspirasi dari ilmu pertanian. Ia digunakan untuk menjelaskan proses persilangan dua varietas tanaman yang masing-masing memiliki keunggulan guna menghasilkan varietas baru yang lebih unggul. Selama ini tanpa sadar saya telah menggunakan suatu produk hybrid untuk mengatasi kompleksitas kepemerintahan, khususnya ketika saya sebagai gubernur dan menteri.
Saya berhipotesis bahwa capaian saya sebagai Gubernur Sulawesi Selatan dan Menteri Pertanian disebabkan oleh produk unggul di bidang tata kelola pemerintahan itu, yang lahir dari proses trial and error. Saya mengartikan hibridisasi sebagai persilangan antara ilmu hukum tata negara positivistik dengan pengetahuan hukum dan pemerintahan yang bersumber dari kearifan lokal.
Ia menjadi kesatuan pengetahuan yang bersintesis terus menerus dan teraplikasikan dalam karir kepemerintahan saya.
Perlu saya sampaikan bahwa meskipun sama-sama hukum publik, hukum tata negara merupakan pengaturan bernegara secara umum yang tidak hanya mengatur soal norma dasar bernegara tetapi juga mengatur soal alat kelengkapan negara dan hubungan antar lembaga negara serta hubungan antara negara dengan rakyat.
Sedangkan hukum pidana lebih mengatur soal kepentingan keamanan dan ketertiban khususnya yang terkait dengan persoalan tindakan atau perbuatan jahat yang dilakukan oleh negara atau rakyat. Adapun hukum perdata lebih kepada hubungan pribadi atau private yang berkenaan dengan soal pemenuhan hak dan kewajiban dalam perhubungan hukum.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
Terkini
-
800 Orang Tewas! Ini 10 Fakta Mengejutkan Laka Lantas di Sulsel
-
Waspada! Ini Lokasi Paling Sering Makan Korban Kecelakaan di Kota Makassar
-
BMKG Sebut Aktivitas Ini Sebabkan Gempa Bumi di Kendari
-
Tak Diberi Uang Judi, Suami di Makassar Nekat Parangi Istri dan Habisi Nyawa Sepupu
-
Inklusi Keuangan Melesat, Holding UMi Dorong Literasi dan Akses Investasi Masyarakat