- Warganet dan tokoh publik mengkritik pemilihan kucing Masha sebagai ikon visual di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin baru-baru ini.
- Para pengkritik menilai ikon tersebut kurang merepresentasikan identitas lokal Sulawesi Selatan dibandingkan simbol budaya seperti kapal Phinisi.
- Pihak bandara menegaskan Masha hanya ornamen dekoratif sementara untuk spot foto, bukan menggantikan identitas utama bandara tersebut.
SuaraSulsel.id - Sosok seekor kucing British Shorthair bernama Masha mendadak mencuri perhatian warganet.
Karakter yang diperkenalkan sebagai ikon visual Bandara Internasional Sultan Hasanuddin itu ramai diperbincangkan di media sosial setelah sejumlah pengguna mempertanyakan alasan pemilihannya.
Sebagian warganet menilai ikon bandara seharusnya lebih merepresentasikan identitas lokal Sulawesi Selatan maupun Kabupaten Maros sebagai lokasi bandara.
Nama-nama seperti kupu-kupu Maros hingga kapal Phinisi pun muncul dalam perdebatan tersebut.
Salah satu kritik datang dari wartawan senior, Upi Asmaradana.
Melalui unggahannya, ia mempertanyakan relevansi Masha sebagai ikon visual bandara yang menjadi pintu gerbang utama Sulawesi Selatan.
"Sependek pengetahuan saya, selain kupu-kupu yang menjadi ikon Kabupaten Maros, perahu Phinisi adalah ikon visual paling relevan dan ikonik dengan Bandara Sultan Hasanuddin," tulisnya.
Menurut Upi, alasan bahwa karakter kucing tersebut dihadirkan untuk menghibur dan menyambut penumpang dinilai belum cukup kuat.
Ia khawatir kehadiran ikon baru justru mengaburkan nilai sejarah, identitas daerah, dan kearifan lokal yang selama ini melekat pada bandara tersebut.
Baca Juga: Makassar Half Marathon 2026 Pakai Dana APBD 2,5 Miliar
"Selain menghibur, menjaga nilai-nilai luhur suatu daerah juga lebih penting tanpa mengabaikan bahwa karya Masha The Cat ini juga merupakan karya seni yang patut diapresiasi," ujarnya.
Ia juga mempertanyakan mengapa simbol-simbol yang selama ini identik dengan Sulawesi Selatan, seperti kupu-kupu Maros, kapal Phinisi, aksara Lontara, hingga ornamen budaya Bugis-Makassar dan Toraja, tidak lebih ditonjolkan.
Menanggapi hal tersebut, pihak Bandara Internasional Sultan Hasanuddin menegaskan bahwa Masha bukanlah pengganti identitas utama bandara maupun simbol budaya Sulawesi Selatan.
Branch Communication and CSR Department Head Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Fascal Ramadhan mengatakan Masha hanya merupakan elemen dekoratif yang bersifat sementara dan ditempatkan pada area tertentu sebagai spot foto bagi pengunjung.
"Itu cuma elemen ornamen dekoratif kecil saja untuk spot foto yang sifatnya temporer," kata Fascal, Senin, 1 Juni 2026.
Menurutnya, identitas utama Bandara Sultan Hasanuddin tetap hadir dan dapat ditemukan di berbagai sudut terminal.
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
-
Rambah Cempaka: Perempuan yang Bersemayam di Batu Lumpang
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
Terkini
-
Mengapa Kucing British Jadi Ikon Bandara Sultan Hasanuddin? Ini Penjelasan Angkasa Pura
-
Bareskrim Polri Hentikan Aktivitas Tambang PT WIN di Konawe Selatan
-
Ini Motif Suami di Konawe Selatan Aniaya Istri Hingga Meninggal
-
Hadiri Sannipata Waisak 2026, Andi Sudirman Apresiasi Kontribusi Permabudhi ke Pembangunan Daerah
-
Pelaku Pencabulan dan Pembunuhan Anak di Makassar Terancam Penjara Seumur Hidup