Scroll untuk membaca artikel
Muhammad Yunus
Jum'at, 31 Desember 2021 | 09:10 WIB
Pesawat diberi nama PPH-Unhas, singkatan dari Pendampingan Pesawat Haerul (PPH) Unhas segera diterbangkan [SuaraSulsel.id/Istimewa]

Haerul mengaku merancang pesawat sejak tahun 2002. Awalnya jenis helikopter. Sayang, gagal terbang.

Semangatnya tak surut. Ia ingin merasakan bagaimana nikmatnya terbang. Apalagi sepanjang umurnya, ia belum pernah naik pesawat.

Dalam pembuatannya, Haerul didampingi oleh Kapten Halid, mantan penerjun Kopassus yang punya pengetahuan tentang pesawat jenis Ultra Light tersebut. Kemudian dibantu dua orang karyawan di bengkelnya.

Haerul tiga kali melakukan pengujian. Sayangnya, gagal terus.

Baca Juga: Haerul Warisin Dekati Ketua DPD PDIP Lombok Timur Setelah Ditunjuk Gerindra Maju Pilbup

Tapi Haerul tidak menyerah. Puluhan tahun mencoba, akhirnya mesin pesawat bisa terakit. Modalnya hanya parasut bekas dan mesin motor Kawasaki Ninja 150 CC.

Pada percobaan kelima dia berhasil mengudarakan pesawatnya sampai ketinggian 10-12 meter di atas permukaan laut. Namun pesawatnya mengalami kerusakan karena pendaratan tidak berjalan mulus.

"Saya bahkan terluka dan pesawatnya rusak. Jadi diperbaiki lagi," ujarnya.

Dunia maya juga menjadi tempat dia belajar. Yakni membuat perhitungan untuk membangun sayap pesawat serta tenaga yang dibutuhkan untuk menerbangkan pesawat.

Berbekal pengetahuan dari YouTube dan modal sekitar puluhan juta, Haerul mengumpulkan barang-barang bekas untuk merakit pesawat terbang.

Baca Juga: Empat Orang di Pinrang Rela Bayar Joki Demi Dapat Sertifikat Vaksin Covid-19

Dia menggunakan aluminium untuk membuat kerangka pesawat. Setidaknya 50 Kg aluminium dia gunakan untuk membangun pesawat tersebut.

Load More