Scroll untuk membaca artikel
Muhammad Yunus
Senin, 28 Desember 2020 | 09:32 WIB
Pemakaman pasien COVID-19 di tempat pemakaman umum Kelurahan Kotasiantar Madina, Rabu 28/10. (ANTARA/HO)

Program Wisata Covid-19 ini merupakan bentuk kerja sama pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dengan sejumlah hotel untuk menerapkan isolasi mandiri.

Hotel-hotel di Makassar yang telah bergabung dengan program Wisata Covid-19 ini akan menjadi tempat karantina untuk orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), (OTG), dan pasien positif Covid-19.

Di hotel itu, para tamu tetap mendapatkan pelayanan seperti biasa, yakni makan, laundry, dan ditambah layanan kesehatan oleh tenaga medis. Gubernur Sulsel mengatakan tingkat kesembuhan pasien cukup tinggi, khususnya peserta wisata Covid-19 atau isolasi mandiri di hotel, begitu membantu karena didukung dengan suasana yang nyaman, makanan bergizi dan teratur, serta istirahat yang cukup.

"Virus corona ini bisa dilawan dengan imunitas tubuh yang kuat, karena imunitas yang kuat bisa diperoleh dari istirahat yang cukup, makan makanan bergizi, minum vitamin, jangan cemas, jangan stres," ujarnya.

Baca Juga: Masih Ada Kolektor Kaset Pita di Kota Makassar

Setidaknya pada 4 Mei 2020 tercatat 217 orang yang mengikuti Wisata Covid-19 di Swiss Bell Hotel, dan satu persatu kembali ke rumah dalam kondisi yang lebih fit dan sudah dinyatakan negatif Covid-19.

Dari jumlah yang ikut wisata Covid-19 tersebut terdapat 11 orang santri dari 19 santri dari Pesantren Al Fatah Temboro, Jawa Timur yang kembali ke kampung halamannya di Pulau Kodingareng, Kecamatan Sangkarrang, Kota Makassar setelah mendapatkan penanganan di hotel.

Dengan penanganan tersebut, tingkat kesembuhan pasien semakin signifikan mengalami peningkatan, tak heran jika kemudian Pemprov Sulsel yang dinakhodai Nurdin mendapatkan apresiasi dari pemerintah pusat, karena dinilai dapat menekan kasus COVID-19 melalui Program Wisata Covid-19.

Bahkan provinsi lain datang ke Sulsel untuk studi banding dan belajar tentang penanganan pasien terkonfirmasi Covid-19. Pasalnya Provinsi Sulsel pernah menduduki rangking teratas kasus Covid-19 di luar Jawa, namun melalui program itu mampu menjadikan Sulsel dari zona merah menjadi zona oranye, bahkan beberapa kabupaten/kota beralih ke zona kuning hingga hijau seperti Kota Palopo dan Tana Toraja.

Namun euforia Sulsel mampu menekan kasus COVID-19 itu mulai pudar ketika memasuki penghujung 2020. Pilkada serentak 2020 pada 9 Desember dianggap salah satu pemicu peningkatan kasus COVID-19 di Sulsel, karena banyak yang tidak mengindahkan protokol kesehatan lagi saat kampanye maupun pada saat hari H Pilkada.

Baca Juga: Terekam CCTV, Bocah Pencuri Belasan Juta Uang Hotel di Makassar

Terbukti dari peta zonasi risiko COVID-19 per 20 Desember 2020 menunjukkan tidak ada lagi zona hijau di Sulsel. Mayoritas kabupaten/kota berada di zona oranye. Kecuali Pinrang dan Tana Toraja di zona kuning dan Palopo yang justru masuk zona merah, padahal sebelumnya sudah zona hijau.

Load More