- Komisi Disiplin PSSI mendenda PSM Makassar total Rp150 juta akibat tiga pelanggaran suporter saat laga kontra Persita, 2 Maret 2026.
- Pelanggaran mencakup masuk lapangan, menyalakan flare, dan pelemparan botol setelah PSM kalah dramatis di Parepare.
- Denda ini menambah akumulasi hukuman PSM akibat ulah suporter selama musim kompetisi Super League 2025/2026.
SuaraSulsel.id - Manajemen PSM Makassar kembali harus merogoh kocek dalam-dalam.
Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan sanksi denda total Rp150 juta kepada klub berjuluk Juku Eja tersebut akibat ulah oknum suporter saat pertandingan melawan Persita Tangerang.
Sanksi tersebut dijatuhkan setelah Komdis PSSI menggelar sidang pada 9 Maret 2026. Insiden yang menjadi dasar hukuman terjadi ketika PSM menjamu Persita di Stadion BJ Habibie, Parepare, Senin, 2 Maret 2026.
Pertandingan tersebut berakhir dramatis. PSM yang sempat unggul dua gol harus menelan kekalahan setelah Persita berhasil membalikkan keadaan dengan mencetak empat gol.
Baca Juga:PSM Makassar Tunjuk Zulkifli Syukur, Bagaimana Nasib Tomas Trucha?
Kekalahan itu sekaligus memperpanjang tren buruk PSM yang saat ini tercatat telah mengalami empat kekalahan beruntun.
Situasi tersebut memicu kekecewaan sejumlah suporter. Seusai pertandingan, ratusan pendukung PSM melakukan aksi yang dinilai melanggar aturan disiplin pertandingan mulai dari memasuki lapangan hingga menyalakan flare.
Komdis PSSI mencatat setidaknya tiga pelanggaran yang dilakukan oleh suporter PSM dalam pertandingan tersebut.
Pelanggaran pertama adalah masuknya sekitar 100 suporter PSM ke area lapangan pertandingan dari Tribun Selatan setelah laga usai.
Tindakan tersebut dinilai melanggar Pasal 70 ayat (1) dan ayat (2) juncto Lampiran 1 nomor 5 Kode Disiplin PSSI Tahun 2025.
Baca Juga:Pemilik Klub Malut United Dilaporkan ke Polisi, Diduga Intimidasi Jurnalis dan Paksa Hapus Rekaman
Atas pelanggaran itu, Komdis PSSI menjatuhkan sanksi denda sebesar Rp60 juta kepada PSM Makassar.
Pelanggaran kedua adalah penyalaan dua flare serta pembakaran spanduk yang terjadi di area lapangan pertandingan setelah laga berakhir.
Insiden tersebut kembali berujung sanksi denda bagi PSM sebesar Rp60 juta.
Komdis PSSI juga memberikan peringatan bahwa pengulangan pelanggaran serupa di masa mendatang dapat berujung pada hukuman yang lebih berat.
Selain itu, PSM kembali dikenai denda sebesar Rp30 juta akibat insiden pelemparan botol air minum kemasan ke arah belakang bangku cadangan tim yang dilakukan oleh suporter.
Dengan demikian, total denda yang harus dibayarkan oleh manajemen PSM Makassar dari tiga pelanggaran tersebut mencapai Rp150 juta.
Sanksi ini menambah daftar panjang hukuman yang harus ditanggung PSM sepanjang kompetisi Super League musim 2025/2026 akibat ulah oknum suporter di Stadion BJ Habibie.
Sebelumnya, dalam sidang Komdis PSSI pada 9 Desember 2025, PSM juga didenda Rp30 juta akibat pelemparan botol air minum yang dilakukan penonton dari Tribun VIP dan Tribun Timur saat pertandingan melawan Persebaya Surabaya pada 6 Desember 2025.
Tak hanya itu, dalam sidang Komdis PSSI pada 6 November 2025, PSM bahkan dijatuhi denda Rp120 juta akibat dua pelanggaran disiplin saat menjamu Madura United pada 2 November 2025.
Pelanggaran pertama terjadi ketika sejumlah suporter PSM memasuki area lapangan pertandingan dari belakang gawang tim tuan rumah melalui Tribun Utara. Insiden tersebut membuat PSM dikenai denda Rp60 juta.
Sementara pelanggaran kedua terjadi akibat penyalaan flare di Tribun Selatan serta di depan pintu masuk stadion yang juga dilakukan oleh suporter PSM. Untuk insiden ini, Komdis kembali menjatuhkan denda Rp60 juta.
Pada Februari 2026 lalu, PSM juga sempat menerima sanksi serupa setelah pertandingan melawan Semen Padang dalam laga pekan ke-19 Super League 2025/2026.
Kala itu, puluhan suporter memasuki area lapangan saat para pemain PSM masih berada di lingkaran tengah setelah pertandingan berakhir.
Insiden tersebut membuat manajemen klub kembali harus membayar denda sebesar Rp60 juta.
Menanggapi aksi suporter saat laga melawan Persita, Menlu Red Gank, Muh Al Fajri mengakui bahwa tindakan tersebut jelas menimbulkan sanksi dari Komdis PSSI.
Namun, ia menilai kekecewaan suporter muncul karena hasil buruk yang dialami tim belakangan ini.
"Mereka selalu mau dijaga, tapi mereka juga merasa perasaannya tidak dijaga," kata Fajri.
Menurutnya, kekecewaan suporter memuncak setelah PSM gagal mempertahankan keunggulan dua gol saat melawan Persita.
Kekalahan tersebut dinilai sangat menyakitkan bagi pendukung yang telah memberikan dukungan penuh kepada tim.
Bahkan seusai pertandingan, sejumlah suporter sempat berdebat dengan pemain PSM, termasuk sang bek Yuran Fernandes di tengah lapangan.
Dalam situasi tersebut, Yuran berusaha menenangkan suporter dan menjelaskan bahwa para pemain juga tidak menginginkan hasil buruk tersebut.
Ia menegaskan seluruh pemain telah berusaha maksimal di lapangan meski hasil akhir tidak sesuai harapan.
Fajri menegaskan bahwa para suporter berharap manajemen, pelatih, dan pemain dapat bertanggung jawab atas situasi tim saat ini.
"Kami minta pertanggungjawaban bagaimana tim ini tidak turun ke Liga 2 dan membalas pengorbanan suporter dengan kemenangan," ujarnya.
Saat ini, PSM Makassar memang berada dalam tekanan besar di klasemen sementara Super League 2025/2026.
Tim berjuluk Pasukan Ramang itu kini menempati peringkat ke-13 dengan koleksi 23 poin.
Posisi tersebut membuat PSM hanya terpaut lima poin dari zona degradasi.
Dengan 10 pertandingan tersisa, PSM dituntut meraih poin maksimal agar dapat mengamankan posisi di kasta tertinggi sepak bola Indonesia musim depan.
Secara matematis, tim asuhan Thomas Trucha itu diperkirakan membutuhkan tambahan sekitar 10 hingga 13 poin untuk mencapai batas aman sekitar 30 hingga 33 poin, angka yang umumnya cukup untuk menghindari degradasi dalam kompetisi Liga Indonesia dengan format 18 tim.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing