Pramugari Esther Minta Maaf Sebelum Pesawat Jatuh, Ayah: Saya Berharap Mukjizat Tuhan

Esther bukan hanya pramugari bagi keluarganya. Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara, tulang punggung keluarga.

Muhammad Yunus
Senin, 19 Januari 2026 | 13:35 WIB
Pramugari Esther Minta Maaf Sebelum Pesawat Jatuh, Ayah: Saya Berharap Mukjizat Tuhan
Pramugari Esther Aprilita S salah satu korban pesawat ATR42-500 yang jatuh di puncak Gunung Bulusaraung. Petugas masih bekerja melakukan pencarian dan berharap ada keajaiban [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Ayah pramugari Esther Aprilita S, Adi Saputra, menunggu kabar di Posko Bandara Sultan Hasanuddin sejak Senin, 19 Januari 2026.
  • Komunikasi terakhir Esther dengan keluarga adalah Jumat malam, 16 Januari 2026, saat ia bertugas di Halim Perdanakusuma.
  • Tim SAR Gabungan masih mengevakuasi korban dan serpihan pesawat di Puncak Gunung Bulusaraung karena terhalang cuaca buruk.

Putrinya sudah hampir tujuh tahun terakhir mendedikasikan hidupnya di udara.

"Hampir tujuh tahun (jadi pramugari)," katanya mengenang profesi putrinya.

Di tengah ingatan-ingatan itu, ada satu hal yang terus mengusik benak Adi. Pesan terakhir Esther sehari sebelum kejadian.

Sebuah kalimat yang terasa janggal bagi seorang ayah. Esther meminta maaf.

Baca Juga:iPhone Co Pilot Ungkap Pergerakan Smartwatch, Keluarga: Dia Masih Hidup!

"Dia minta maaf kalau ada salah. Biasanya nggak begitu," ungkap Adi.

Kalimat sederhana itu kini terasa berat seolah menjadi salam perpisahan yang tak pernah diucapkan secara langsung.

Bagi Adi, Esther adalah anak yang baik, tak banyak menuntut, penuh perhatian, dan selalu memikirkan keluarga.

Harapan itu juga dijaga oleh sang ibu, J. Siburian.

Adi Saputra, ayah dari pramugari Esther Aprilita masih menunggu keajaiban di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Adi Saputra, ayah dari pramugari Esther Aprilita masih menunggu keajaiban di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar [SuaraSulsel.id/Istimewa]

Ia mengingat betul pesan dari Esther pada Jumat malam, 16 Januari 2026.

Baca Juga:Detik-Detik Sebelum Tragedi: Unggahan Terakhir Pramugari Florencia Lolita yang Akan Menikah

Putrinya mengabarkan sedang berada di Yogyakarta. Selebihnya tak ada yang terdengar berbeda.

Namun sejak kabar pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta-Makassar hilang kontak merebak, doa menjadi satu-satunya pegangan.

"Saya berharap mukjizat Tuhan masih ada. Selama kami belum melihat Esther, mukjizat itu pasti masih ada," ujarnya, penuh keyakinan.

Sementara keluarga menunggu dengan doa, upaya pencarian dan pertolongan terus dilakukan di medan yang jauh dari kata bersahabat.

Hingga Senin, 19 Januari 2026, Tim SAR Gabungan masih melanjutkan proses evakuasi korban dan bagian tubuh pesawat di kawasan Puncak Gunung Bulusaraung, wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar selaku Sar Mission Coordinator (SMC) menjelaskan proses evakuasi belum dapat dilakukan secara maksimal.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini