Gubernur Sulsel Geram: Wisuda TK-SMA Jangan Jadi Pungutan Liar! PR Juga Dihapus!

Kepala sekolah dan guru dari PAUD hingga SMA/SMK untuk tidak menjadikan acara wisuda sebagai beban tambahan bagi orang tua siswa

Muhammad Yunus
Jum'at, 02 Mei 2025 | 12:02 WIB
Gubernur Sulsel Geram: Wisuda TK-SMA Jangan Jadi Pungutan Liar! PR Juga Dihapus!
Ilustrasi siswa sekolah dasar di Hari Pendidikan Nasional [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara Tambing]

SuaraSulsel.id - Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman mengingatkan para kepala sekolah dan guru dari PAUD hingga SMA/SMK. Untuk tidak menjadikan acara wisuda sebagai beban tambahan bagi orang tua siswa.

Hal ini ia sampaikan seusai memimpin upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Jumat, 2 Mei 2025.

"Saya pada prinsipnya, tolong jangan bebani orang tua siswa," tegas Andi Sudirman.

Menurutnya, tradisi wisuda yang selama ini dilakukan oleh sekolah dari jenjang taman kanak-kanak hingga SMA bukanlah suatu keharusan.

Baca Juga:Selamat Hari Pendidikan Nasional! Yuk, Rayakan Klaim Saldo Dana Kaget Hari Ini

Diketahui, sejumlah orang tua mengeluhkan terkait pungutan biaya wisuda yang kerap dianggap memberatkan.

Bahkan di beberapa sekolah mewajibkan siswanya membayar Rp700 ribu untuk mengikuti acara tersebut.

Sudirman menegaskan, wisuda secara formal hanya diwajibkan bagi mereka yang telah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.

Namun, ia mempersilahkan jika sekolah ingin menggelar tradisi seperti itu, tapi secara sukarela. Ia meminta agar tidak dijadikan kewajiban.

"Kalau ada sukarelawan, ya tergantung orang tuanya dan sekolah. Tapi jangan sampai jadi kewajiban. Tidak ada di aturan yang mewajibkan acara-acara seperti itu. Sarjana memang harus, tapi di sekolah tidak ada (aturan) begitu," ujarnya.

Baca Juga:SPMB 2025 Sulsel: Kuota Domisili Berkurang, Afirmasi Ditambah

Selain menyoroti wisuda, gubernur juga menyinggung soal kebiasaan guru memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada siswa.

Kata Sudirman, praktik pemberian PR justru membebani siswa maupun orang tua.

"(Selama) saya Gubernur, tidak boleh ada PR. Yang susah itu orang tuanya, karena anaknya sudah capek. Dari jam delapan sampai jam empat sore di sekolah. Tugas tidak selesai-selesai," sebutnya.

Ia menambahkan, sistem full day school sudah menyita sebagian besar waktu siswa. Karena itu, ia menekankan pentingnya memberi ruang istirahat dan waktu bermain bagi anak-anak.

Sudirman menyebut, kegiatan belajar seharusnya cukup dilakukan di sekolah saja.

"Tolong, kalau bisa, habis salat isya mereka tidur. Besoknya sekolah lagi. Jangan sampai anak-anak kehilangan masa kecil dan waktu istirahat mereka," ucapnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini