Proyek ini direncanakan mampu mengolah 1.300 ton sampah per hari, dengan dua jalur pembakaran berkapasitas 2x650 ton per hari dan satu unit pembangkit uap berkapasitas 1x35 MW.
"Proyek ini tidak hanya membantu mengatasi masalah sampah, tetapi juga secara signifikan mengurangi emisi gas rumah kaca, mendukung target netral karbon Indonesia," jelasnya.
CTO SUS Environment, Jiao Xue Jun, menambahkan bahwa perusahaan akan memanfaatkan keunggulan teknologi dan manajemen untuk memastikan pembangunan dan operasi proyek yang efisien, serta mendorong perkembangan berkelanjutan.
Proyek ini diperkirakan akan memulai ground breaking pada akhir 2024 dan mulai beroperasi pada akhir 2026. Diharapkan, proyek ini menjadi contoh penting di Indonesia dan Asia Tenggara.
Baca Juga:Stadion PSM Makassar Jadi Kunci, Bagaimana Kandidat Wali Kota Menggaet Suara Suporter?
Selama masa pembangunan, proyek ini juga akan menciptakan banyak lapangan kerja bagi masyarakat setempat serta mendorong pertumbuhan industri terkait.
Selain memperkuat kerja sama antara Indonesia dan China di bidang energi hijau, proyek ini juga merupakan pencapaian penting dalam kerangka inisiatif "Belt and Road."