Detik-Detik Terakhir Pong Tiku, Pahlawan Toraja yang Gugur di Tepi Sungai Sa'dan

Usianya sudah 75 tahun. Tubuhnya masih sehat dan terlihat cantik.

Muhammad Yunus
Kamis, 15 Agustus 2024 | 16:15 WIB
Detik-Detik Terakhir Pong Tiku, Pahlawan Toraja yang Gugur di Tepi Sungai Sa'dan
Ruth Matasak, cucu dari pahlawan nasional, Pong Tiku [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara Tambing]

Pong Tiku bersembunyi di bentengnya, di Buntu Batu. Ia kembali mengirim pasukan untuk memata-matai Belanda di Rantepao.

Pada 22 Juni di tahun yang sama, pasukannya melaporkan bahwa pada malam sebelumnya, sebuah batalyon Belanda, sekitar 250 ribu pria dan 500 pengangkut berangkat ke desa tersebut. Tiku kemudian memerintahkan agar jalanan segera disabotase.

Pada tahun-tahun tersebut, Belanda tidak hanya bermusuhan lagi dengan Toraja saja, tapi juga dengan kerajaan Islam di Sulawesi seperti Bone, Gowa, dan Sawito.

Pong Tiku lalu mengadakan gencatan senjata dengan Belanda. Ia kemudian bergerak ke Benteng, di wilayah selatan.

Baca Juga:Usia 24 Tahun, Monginsidi Dihujani Delapan Peluru di Makassar

Dari sana dia kemudian ke Alla (Enrekang) dan bertempur bersama orang-orang Duri melawan Belanda. Sayangnya, wilayah itu pada akhirnya jatuh ke tangan Belanda.

Pong Tiku lalu memutuskan untuk bersembunyi di hutan. Namun, pada 30 Juni 1907, Tiku dan dua anak buahnya ditangkap oleh pasukan Belanda.

Pada 10 Juli 1907, Tiku dieksekusi oleh tentara Belanda di dekat Sungai Sa'dan. Ia ditembak mati saat sedang mandi.

Setelah terbunuh dan pengikut Pong Tiku diberantas, Belanda akhirnya bisa menguasai kopi Toraja.

Ruth mengatakan Pong Tiku sebenarnya punya nama asli Matasak. Nama itu adalah pemberian ayahnya.

Baca Juga:Dari Toraja hingga Kendari, 13 Tim Adu Robot Canggih di UHO

Namun, oleh pasukannya dipanggil Pong Tiku. Artinya bapak pengayom dan pemberani. Itu juga yang jadi kebangaan Ruth, kata Matasak di belakang namanya untuk mengenang kakeknya.

Sejak kematiannya, Pong Tiku menjadi simbol perlawanan Toraja. Untuk menghargai jasanya, ia resmi dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2002.

Pong Tiku juga jadi nama Bandara di Toraja. Selain itu, pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, di Sulawesi Selatan terdapat nama Batalyon Pong Tiku yang pro Republik, berisikan pemuda Toraja yang dipimpin oleh bekas serdadu KNIL bernama Samuel Tambing.

Kata Ruth, selain cerita heroik, keluarga masih mengenang Pong Tiku lewat sebuah keris pusaka yang dulu digunakan untuk melawan Belanda. Keris itu kini tersimpan rapi di Bandung, Jawa Barat.

"Kami masih menyimpan dengan baik keris miliknya yang dikasih nama Pasang Timbo. Ada di rumah saudara saya di Bandung, itu disimpan di septi box karena dianggap sakral," tuturnya.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini