Erupsi Gunung Lewotolok Lembata Disertai Dentuman, Masyarakat Diminta Waspada

Pos Pemantau Gunung Ile Lewotolok di Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur melaporkan

Muhammad Yunus
Kamis, 26 Oktober 2023 | 13:11 WIB
Erupsi Gunung Lewotolok Lembata Disertai Dentuman, Masyarakat Diminta Waspada
Gunung Ile Lewotolok (tengah) di Lembata berderet dengan Gunung Ile Boleng (depan) di Pulau Adonara, Flores Timur, NTT. Foto dari udara. (ANTARA/Bernadus Tokan)

SuaraSulsel.id - Pos Pemantau Gunung Ile Lewotolok di Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur melaporkan bahwa dalam satu setengah jam terakhir telah terjadi dua kali erupsi dengan ketinggian abu berbeda-beda.

"Erupsi pertama terjadi pada pukul 08.54 WITA dengan ketinggian abu 600 meter di puncak kawah atau kurang lebih 2.023 dari permukaan laut," kata Kepala Pos Pemantau Gunung Ile Stanis Arakian dihubungi dari Kupang, Kamis 26 Oktober 2023.

Dia menambahkan, untuk erupsi kedua terjadi pada pukul 10.32 WITA waktu setempat dengan ketinggian abu akibat erupsi mencapai 700 meter atau kurang lebih 2.123 di atas permukaan laut.

Dia menambahkan bahwa saat erupsi pertama dengan ketinggian 600 meter, kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat laut.

Baca Juga:Gunung Ili Lewotolok Meletus, Awan Erupsi Capai 700 Meter

Erupsi tersebut juga terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 33.3 mm dan durasi kurang lebih 48 detik.

"Letusan disertai dentuman lemah," tambah dia.

Sementara erupsi kedua dengan ketinggian abu mencapai 700 meter, kolom abunya teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah yang sama dengan yang pertama namun dengan amplitudo maksimum 33.3 mm dan durasi kurang lebih 54 detik.

"Letusan disertai dentuman sedang," ujar dia.

Arakian menambahkan bahwa jika dilihat dari seismik nya memang masih didominasi oleh gempa yg berkaitan dengan pelepasan material.

Baca Juga:Ekstrimnya Jalur Alternatif Malang-Lumajang, Butuh Nyali untuk Melewatinya

Tetapi jika dilihat berupa gempa letusan dan hembusan maka disimpulkan masih cukup signifikan. Dia juga menambahkan bahwa gempa hembusan rata rata per hari 100 kali kejadian, dan letusan rata rata 30 kali per hari.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini