Benny menyatakan sampai saat ini keluarga belum bisa menerima kejadian itu. Meski Polrestabes Makassar telah berusaha memecahkan kasus tersebut hingga menyimpulkan korban diduga bunuh diri, jatuh dari lantai delapan atap sekolah milik mantan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 HM Jusuf Kalla itu.
Ia mengungkapkan sempat didatangi aparat Polda Sulsel di kediaman pribadinya setelah beberapa hari kejadian, menanyakan perihal kematian anaknya itu yang masih menjadi tanda tanya.
Kepada wartawan Benny menyatakan kedatangan mereka membicarakan seputar penyelidikan serta tindak lanjutnya.
"Hanya pemantauan saja karena proses hukum sudah dilakukan Polrestabes. Jadi, kita percaya. Itu tugas mereka secara profesional. Saya juga sudah mengunjungi lokasi anak saya di sekolah itu. Sesuai dengan informasi dan berita, di lantai delapan, roof top (atap), memastikan tas dan sepatu anak saya posisinya di mana setelah kejadian," tuturnya.
Baca Juga:Kumpul Bukti Dugaan Siswa SMP Athirah Makassar Dibunuh, Keluarga Minta Bantuan Pemuda Pancasila
Sebab, menurut dia, ada yang janggal dengan kematian anaknya itu karena tasnya ditemukan di dalam ember toilet musala, begitu pula sepatunya berada depan musala sekolah.
Bahkan dari rekaman kamera pengintai CCTV, korban hanya terpantau saat naik lift ke lantai delapan, tetapi di lantai delapan CCTV tidak berfungsi alias rusak.
"Kalau saya melihat, di lantai delapan itu tidak ada tempat melompat. Di lantai delapan di situ ada tangga ke roof top, tapi kita tidak bisa bilang di situ karena tidak melihat. CCTV juga tidak bisa membuktikan anak saya naik ke atas sehingga kita sama-sama menduga. Kalau saya, secara pribadi, tahu karakter anak saya. Sampai saat ini belum menyakini anak saya bunuh diri," ucapnya sembari menangis.
Pihak keluarga juga sempat didatangi pihak sekolah untuk menyampaikan belasungkawa dan permintaan maaf. Ia menanyakan bagaimana keseharian anaknya selama di sekolah.
Apakah suka bolos atau tidak, ternyata anaknya baik, tes IQ masuk kategori superior dan masuk Kelas Tozza (pilihan). Akan tetapi, korban tidak mau karena temannya sedikit.
Ia menegaskan selama ini hubungan dengan anak ketiganya dari tiga bersaudara sangat baik, bahkan sering video call ketika bersama ibunya.
Baca Juga:Perjalanan Kasus Kematian Siswa SMP Athirah: Disebut Janggal, Kini Tiba-tiba Disetop Polisi
Walaupun dirinya bertugas di Kementerian Perhubungan di luar wilayah Sulsel, ia tetap memperhatikan kondisi anak-anak maupun keluarganya selama berdinas di luar kota.