"Makanya masjid ini dikenal pula sebagai masjid perjuangan. Karena di tempat ini ada semangat bersatu untuk melawan Belanda saat itu," jelas Syahril.
Puncaknya pada tahun 1950. Ulama Muchtar Luthfi yang juga ketua panitia pembangunan didaulat untuk memimpin salat Jumat. Isi khotbahnya mengurai tentang semangat perjuangan dan proklamasi.
Muchtar Lutfi menyerukan ke jemaah agar memboikot semua kebutuhan KNIL. Termasuk melarang warga untuk menyuplai makanan ke markas pasukan tentara Belanda itu.
Keesokan harinya, Muchtar Lutfi ditembak mati di kediamannya Jalan Gunung Batu Putih - Sekarang dikenal jalan Muchtar Lutfi - Sesaat setelah Muchtar Lutfi menunaikan salat subuh.
Baca Juga:Bacaan Doa Qunut dan Artinya untuk Salat Subuh
"Pas dia menoleh ke jendela, ditembak di bagian kepala. Memang sudah diintai oleh Belanda saat itu," ungkapnya.
Wafatnya Muchtar Lutfi justru menjadi penyemangat bagi umat Islam untuk mengusir penjajah dari Sulawesi Selatan. Untuk mengenang jasanya, pemerintah mengabadikan namanya sebagai nama jalan.
![Masjid Raya Makassar setelah beberapa kali mengalami renovasi [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara Tambing]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/08/03/92691-masjid-raya-makassar.jpg)
Dikunjungi Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto
Masjid ini juga pernah didatangi Presiden RI, Soekarno pada tahun 1957. Kunjungannya untuk membujuk pimpinan Darul Islam-Tentara Islam Indonesia (DI-TII) Kahar Muzakkar kembali bergabung dengan Indonesia.
Presiden selanjutnya yakni Soeharto juga pernah berkunjung. Saat itu ia membawa bantuan untuk renovasi masjid sebesar Rp50 juta.
Baca Juga:Terungkap! Deddy Corbuzier Tidur Cuma 4 Jam Sehari, Warganet Ingatkan Salat Subuh
Kata Syahrir, masjid ini sudah mengalami renovasi besar-besaran hingga tiga kali. Masjid yang awalnya berbentuk pesawat dirombak karena konstruksinya cepat lapuk.